waduk tembalang
Tembalangan

Legenda Tembalang, antara Pandan Arang dan Ancaman Bencana Air Bah

Share this:

Halo guys! Kalau boleh tanya, temen-temen udah berapa tahun tinggal di Tembalang? Bila kalian jawab satu tahun, kemungkinan besar adalah salah satu dari para dedek-dedek maba yang masih kinyis-kinyis. Kalo kalian jawab empat tahun, ada indikasi bahwa kalian adalah veteran kampus yang sedang dikejar-kejar dosen pembimbing untuk sidang skripsi. Kalo lebih dari 10 tahun, wah fix kalian warlok alias warga lokal.

Meskipun demikian, mau berapa lama kalian tinggal di Tembalang, nggak akan afdol kalau kalian belum tahu asal usul nama Tembalang itu sendiri. Yup, sebuah peribahasa klasik mengatakan bahwa, “Tak kenal maka tak sayang”. Maka dari itu, buat kalian yang masih belum tahu sama sekali dari mana nama Tembalang itu berasal, ayuk kita telusuri bersama!

Bermula dari Raden Pandan Arang

Menurut beberapa sumber, Tembalang merupakan nama yang diberikan oleh Raden Pandan Arang, Bupati I Kota Semarang. Menilik catatan sejarah, Raden Pandan Arang hidup sekitar awal abad ke-16, yaitu pada masa kekuasaan Kerajaan Demak. Dengan demikian, asal usul nama Tembalang sudah berusia cukup tua, yaitu sekitar 400 tahun lebih.

Alkisah, Raden Pandan Arang beserta para pengikutnya memulai perjalanan untuk menjelajahi daerah selatan Semarang. Pada waktu itu daerah selatan Semarang masih berupa hutan belantara dan jarang dihuni penduduk. Setelah melalui medan yang berat dan menanjak, Raden Pandan Arang dan rombongan akhirnya tiba di suatu desa. Desa tersebut konon katanya sangat subur, segala macam tanaman tumbuh di sana. Ketika mengetahui junjungannya datang, warga desa segera menyambut Pandan Arang dan rombongan dengan sajian sederhana khas pedesaan, seperti ketela rebus dan air segar.

Sembilan Mata Air

Raden Pandan Arang sangat senang dengan keramahan dan kepatuhan warga desa, sehingga ia mengatakan akan membantu menyelesaikan masalah apapun yang sedang dialami oleh mereka. Warga desa cukup terkejut karena tidak menyangka bahwa mereka mempunyai penguasa yang sungguh baik hati. Setelah terdiam sejenak, salah satu tetua desa akhirnya memberanikan diri berbicara di hadapan Raden Pandan Arang. Ia berkata bahwa Sang Pencipta telah menganugerahi penduduk desa dengan alam lingkungan yang asri dan mencukupi semua kebutuhan. Satu keutamaan yang dimiliki desa itu adalah adanya sembilan mata air di dekat desa. Nama desa itu sendiri adalah Tuk Sanga, yang artinya Sembilan Mata Air.

Namun, sudah beberapa minggu ini warga desa mengalami suatu masalah yang cukup aneh. Tiba-tiba saja kesembilan mata air itu menyemburkan air dengan jumlah yang sangat banyak. Warga desa kemudian berusaha menutup mata air tersebut agar desa tidak kebanjiran. Namun, setiap kali mereka menambal mata air, keesokan harinya tambalan itu akan hilang entah ke mana. Padahal, warga telah menahan tambalan tersebut dengan batu-batuan sungai yang sangat berat. Selesai bercerita, tetua desa itu kemudian tersungkur bersujud. Dengan suara bergetar, ia memohon Raden Pandan Arang untuk membantu warga desa agar terhindar dari bencana.

Pandan Arang Menyelamatkan Desa

Raden Pandan Arang bergeming sesaat. Setelah menarik nafas panjang, ia kemudian meminta warga desa untuk mengantarnya menuju sembilan tuk yang menjadi sumber kesedihan warga desa. Melihat suatu harapan, warga desa beramai-ramai kemudian mengantar Pandan Arang menuju lokasi sembilan tuk. Lokasi tuk ternyata memang tidak terlalu jauh dari desa. Mungkin hanya sekitar 15 menit berjalan kaki melintasi jalan setapak yang diapit oleh deretan pohon jati dan ladang perkebunan warga. Sembilan tuk itu sebenarnya terletak di tempat yang lebih rendah dari area pemukiman warga. Namun karena besarnya arus air, lokasi tuk seakan menjelma menjadi danau kecil. Bila aliran air tak segera berhenti, danau kecil tersebut dapat berubah menjadi aliran air bah raksasa yang mampu melenyapkan seluruh isi desa.

Raden Pandan Arang kemudian meminta salah satu pesuruhnya untuk mengambil sajadah dan alat ibadah. Pandan Arang lantas mendekat ke air dan mengambil wudhu darinya. Setelah semua siap, Raden Pandan Arang kemudian mulai bersembahyang dengan sangat khusyuk di bawah sebuah pohon beringin yang tumbuh tepat di samping “danau” kecil itu. Warga desa dan seluruh pengikut Pandan Arang menunggu dengan sabar. Hari semakin gelap, malam yang pekat pun tiba. Warga desa dan pengikut Pandan Arang dengan setia menemani Pandan Arang masih bersembahyang. Tidak ada warga desa yang pulang ke rumah pada malam itu. Mereka membuat api unggun dan tidur melingkarinya, beralaskan tanah dan beratapkan rimbun pepohonan.

Keesokan harinya, tepat saat semburat pertama sinar mentari menyinari bumi, Raden Pandan Arang berhenti sembahyang. Ia kemudian mengumpulkan seluruh warga desa di dekatnya. Dengan suara yang menentramkan, Pandan Arang berkata bahwa permohonan warga desa telah didengar oleh Sang Kuasa. Ia lalu melanjutkan bahwa seiring dengan kepergiannya meninggalkan desa tersebut, mata air-mata air akan surut dengan sendirinya. Namun, Sang Kuasa menyisakan satu mata air yang tetap mengalir, sehingga kebutuhan warga desa akan tercukupi. Seluruh warga desa bersorak gembira mendengar perkataan dari Pandan Arang. Warga desa pun kemudian bertanya apakah yang dapat diperbuat oleh mereka untuk membalas budi jasa Pandan Arang.

Tembalang: Tambal sing Ilang

Pandan Arang ternyata tidak meminta balas jasa apapun. Ia hanya berpesan, agar warga desa sejak saat itu menamai daerah tersebut dengan nama “Tambalang”, yang berarti “Tambal sing Ilang”. Hal ini dimaksudkan agar warga desa dan keturunan setelahnya tetap mengingat kejadian ini dan senantiasa bersyukur kepada Sang Kuasa karena telah dihindarkan dari sebuah bencana mengerikan. Seusai berkata demikian, Pandan Arang dan rombongan pamit untuk melanjutkan perjalanan. Seluruh warga desa mengantar kepergian mereka dengan isak tangis dan rasa haru yang teramat sangat. Setelah rombongan hilang dari pandangan, warga desa kembali ke lokasi tuk untuk memeriksa keadaan. Ternyata, perkataan Pandan Arang adalah benar adanya. “Danau kecil” sudah menghilang. Delapan tuk tidak lagi mengeluarkan air. Hanya ada satu tuk yang masih mengeluarkan air jernih yang membentuk suatu aliran sungai kecil. Warga desa seketika itu juga bersujud, menyembah dan bersyukur kepada Sang Kuasa.

Lambat laun, daerah Tambalang semakin dipadati oleh penduduk. Hutan-hutan dibuka untuk dijadikan pemukiman baru. Nama Tambalang pun perlahan berubah menjadi Tembalang seperti yang kita kenal sekarang. Satu tuk yang menjadi saksi sejarah asal mula nama Tembalang mungkin kini sudah hilang entah di mana, namun nama Tembalang, sebagai sebuah pesan dari Raden Pandan Arang, tetap bertahan melintasi jaman, hingga saat ini.

Terlepas dari benar tidaknya cerita ini (namanya saja juga legenda), setidaknya ada beberapa pesan menarik yang dapat kita petik. Pertama, segala sesuatu yang berlebihan itu tidak baik. Air memang penting bagi kehidupan, tapi air yang terlalu banyak, seperti banjir dan tsunami, dapat memusnahkan kehidupan. Kedua, kisah sembilan tuk atau mata air menunjukkan bahwa daerah Tembalang dahulu kala memang merupakan hutan belantara yang sangat lebat. Seperti yang kita tahu, mata air bersumber dari cadangan air tanah yang disimpan oleh akar pepohonan. Sembilan tuk seakan menjadi simbol bahwa Tembalang adalah daerah yang sangat asri dan hijau. Ketiga, jangan lupa sembahyang, ya! Semoga informasi dari infotembalang kali ini bermanfaat bagi kalian ya guys! Cheers.

Referensi:
https://budayajawa.id/asal-usul-kota-tembalang-semarang/
https://www.suaramerdeka.com/kultur/baca/130355/legenda-tembalang-bermula-dari-tambal-mata-air-yang-selalu-hilang
http://semarangkota.com/10/legenda-asal-mula-nama-tembalang/

Credit Photo: foursquare.com/jgmanurung

Julius Ardiles Brahmantya
Cultural Anthroplogy UGM 2017 | Student, writers | AMDG

3 Replies to “Legenda Tembalang, antara Pandan Arang dan Ancaman Bencana Air Bah

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *