Esai

Sang Pengoceh: Tentang Memahami dan Menentukan Posisi

Share this:
  • Informasi buku
  • Judul: Sang Pengoceh
  • Penulis: Mario Vargas Llosa
  • Penerjemah: Ronny Agustinus
  • Penerbit: OAK
  • Tebal buku: 373 halaman
  • Cetakan: 2016

Di depan sebuah galeri di salah satu sudut kota Firenze, tokoh “Aku”—yang identitasnya tidak dijelaskan secara detail–berhenti dan terpaku. Perhatiannya tertuju pada busur, anak panah, dayung pahatan, belanga serta sebuah maneken yang terbalut jubah pintal khas Indian Amazon yang tersusun di etalase. Dengan tidak begitu yakin, ia masuk ke galeri tersebut, sebuah ruangan kecil dipenuhi lembaran foto karya Gabriele Malfatti yang menangkap gambar ragam kehidupan suku Machiguenga. Sebuah foto yang menampilkan kerumunan pria dan wanita duduk melingkari seorang lelaki yang sedang berbicara begitu menarik perhatiannya. Sejenak ia terlempar dalam ruang ingatan ketika ia masih tinggal di Peru, di mana ia dan sosok yang diyakininya berada dalam foto tersebut, masih berkawan akrab.

Saul Zuratas, seorang mahasiswa jurusan Etnologi di Universitas San Marcos, menjadi tokoh utama dalam cerita ini. Ia berkawan dengan tokoh “Aku” yang memiliki kemiripan latar belakang dengan Mario Vargas Llosa itu sendiri. Diceritakan bahwa mereka berteman cukup akrab dan sering berbagi obrolan tentang pengalaman serta cara pandang Saul mengenai masyarakat adat di daerah Amazon, terutama mengenai suku Machiguenga. “Aku” kemudian terinspirasi untuk mengulik sendiri kehidupan suku tersebut dan berencana untuk menuliskan kisahnya. Pergulatan cara pandang dalam memaknai kehidupan masyarakat adat akan banyak kita temui dalam novel ini.

Mario Vargas Llosa menghamparkan dua kisah yang dijalin secara bersamaan dan diceritakan secara bergantian dalam setiap babnya. Kisah pertama menampilkan dinamika hubungan antara “Aku” dengan Saul Zuratas yang kerap dipanggil “Mascarita” karena tanda lahir berupa tompel besar yang menutupi separuh wajahnya. Dengan tampilan wajah yang tidak biasa tersebut, Saul Zuratas harus terbiasa menerima hinaan atau tatapan iba dari orang-orang yang melihatnya. Sementara kisah kedua merupakan imajinasi atas perjalanan hidup Saul Zuratas yang mengambil peran sebagai pencerita dalam tatanan masyarakat suku Machiguenga. Peran tersebut mengharuskan Saul Zuratas untuk berpindah dari satu kelompok keluarga anggota suku Machiguenga ke kelompok yang lain, di mana mereka hidup secara nomaden.

Dalam novel ini dituliskan bahwa Saul Zuratas beberapa kali berkunjung ke kawasan basin Amazon untuk mengunjungi suku Machiguenga. Setiap kali pulang dari sana, ia akan membawa banyak cerita yang dengan sangat bergairah ia bagikan kepada “Aku”. “Aku” bahkan curiga kalau minatnya akan masyarakat adat di Amazon lebih dari sekadar urusan etnologis, melainkan sesuatu yang lebih personal. Sebuah dugaan yang benar adanya, namun sukar dibuktikan. Saul Zuratas bahkan memiliki peran yang signifikan dalam masyarakat Machiguenga. Ia menjadi pencerita, seorang yang tidak hanya mengabarkan informasi terkini, namun juga menjadi agen reproduksi pengetahuan dan mitologi Machiguenga. Akan tetapi, latar belakangnya sebagai orang dari luar Machiguenga menjadikan kisah yang ia ceritakan berbaur dengan literatur lain. Ia bahkan mengadopsi Gregor Samsa dari buku The Metamorphosis karya Franz Kafka dalam salah satu mitologi yang ia bawakan.

Saat itu, “Aku” belum mengetahui bahwa Saul Zuratas lebih dari sekadar melakukan penelitian di Machiguenga, yang ia tahu, temannya itu sering mengungkapkan kegelisahan terkait apa yang terjadi di Amazon. Masyarakat Machiguenga bersama kelompok masyarakat adat lain menjadi korban perbudakan. Pada zaman iris pohon, mereka dijebak, ditangkap lalu dibawa untuk menyayat pohon dan mengumpulkan getah karet. Pada era 1860 hingga 1910, ekspor getah karet dari wilayah Amazon sedang mengalami lonjakan. Para investor, pedagang bahkan petualang berbondong-bondong datang untuk menikmati ceruk keuntungan[1]. Masyarakat adat pun tak luput dalam keterlibatan, sayangnya, mereka mengambil posisi sebagai yang rentan dan tertekan.

Hingga hari ini, masyarakat adat yang tinggal tersebar di berbagai penjuru Amazon masih harus menghadapi invasi yang menggerus ruang hidup mereka. Sebagai contoh, saat ini, pemerintah Brasil tengah merencanakan proyek pembangunan jalan sepanjang 151 km yang menyambungkan Brasil dengan kota Pucallpa di Peru[2]. Proyek tersebut akan membelah pusat Taman Nasional Serra do Divisor yang disebut sebagai salah satu kawasan di Amazon dengan keragaman hayati tinggi. Di Peru sendiri, masyarakat adat yang menghuni Amazon bahkan dianggap sebagai hambatan pembangunan oleh pemerintah. Pemerintah Peru sudah menetapkan agenda pembangunan ekstraksi minyak berskala besar. Proyek tersebut akan disertai pula dengan pembangunan jaringan pipa gas baru, bendungan pembangkit listrik tenaga air, dan jalur transportasi.

Dalam salah satu bagian, Mario Vargas Llosa menyajikan kepada para pembaca bagaimana perdebatan antara “Aku” dengan Saul Zuratas dalam memaknai kehidupan masyarakat adat. “Aku” mewakili pihak yang berpikir bahwa kelompok masyarakat adat harus berbaur dengan struktur sosial pada umumnya. Pun dengan rimbunnya Amazon yang seharusnya dapat dimanfaatkan untuk kepentingan pembangunan Peru. Ia berpandangan bahwa lahan Amazon yang kosong tersebut dapat dibangun untuk pertanian, peternakan, dan kemaslahatan jutaan rakyat lainnya. “Negeri ini harus berkembang”, ucap “Aku”. Paradigma berpikir seperti itu juga dimiliki oleh mantan presiden Peru, Alan Garcia dalam memandang Amazon sekadar sebagai potensi ekonomi. Garcia menyebutkan bahwa “masyarakat adat merupakan komunitas buatan  yang memiliki 200.000 hektar di atas kertas tetapi hanya bertani 10.000 hektar sementara sisanya adalah properti menganggur”[3]. Oleh karena tingkat produktivitas yang rendah tersebut, mereka dianggap hidup dalam kemiskinan, serta akan lebih baik jika lahan menganggur tersebut dapat dikelola oleh para investor.

Di pihak yang berseberangan, Saul Zuratas dengan tegas mengatakan bahwa masyarakat adat harus dibiarkan tenteram menjalani budaya dan adat istiadatnya. Ia berbicara dari pengalamannya mengamati serta berinteraksi langsung dengan mereka di Amazon. Saul Zuratas menyebutkan bahwa aktivitas perburuan ikan atau penebangan pohon, misalnya, tidak dilakukan secara asal. Ada perhitungan yang berlandaskan pada pengetahuan lokal dalam setiap praktik kehidupan masyarakat adat. Praktik tersebut dilakukan dalam rangka pemenuhan kebutuhan hidup sehari-hari. Tidak seperti investor dari luar yang dengan semangat eksploitatif memburu serta menggunduli hutan untuk mengejar keuntungan besar.

Mario Vargas Llosa terlihat menjadikan Saul Zuratas sebagai corong kritik atas kondisi rentan yang dialami masyarakat adat di Amazon. Saul Zuratas menyoroti beberapa aspek eksploitatif yang terjadi, bahkan dalam konteks ilmu pengetahuan. Institut Linguistik Musim Panas, sebuah organisasi Kristen nonprofit yang memiliki tujuan untuk mempelajari, mengembangkan dan mendokumentasikan bahasa, terutama yang kurang dikenal dalam rangka memperluas pengetahuan linguistik dan mempromosikan literasi. Aktivitas yang mereka lakukan dianggap oleh Saul Zuratas sebagai upaya penyusupan dan penghancuran dari dalam. Ia bahkan curiga ketika para linguistik tersebut mencoba untuk menerjemahkan Injil ke dalam bahasa lokal. Dengan kesal dia berujar bahwa proyek tersebut “hanya untuk menyapu bersih budaya mereka, dewa-dewa mereka, institusi-institusi mereka, dan bahkan menggerogoti cita-cita mereka”.

Kelindan antara misi keimanan dengan ilmu pengetahuan menjadi hal yang sangat diresahkan oleh Saul Zuratas yang bahkan menyebutnya sebagai neokolonialisme. Keresahan tersebut dapat dipahami jika mengingat bagaimana akrabnya hubungan antara penjajahan dengan ilmu pengetahuan. Temuan lapangan yang dituliskan oleh para peneliti eropa mendeskripsikan bagaimana perbedaan tingkat “peradaban” antara masyarakat Eropa dengan non-Eropa[4]. Kondisi tersebut diawali dari proses perekaman atas perbedaan antara kedua budaya, yang didasarkan pada konstruksi mental peneliti yang merasa lebih superior. Hal tersebut kemudian dipertebal ketika deskripsi tentang masyarakat adat yang dirujuk sebagai “liyan” ditulis dalam perspektif etik. Pada akhirnya, dalam konteks kolonialisme, dokumentasi dari kerja lapangan perbedaan berfungsi untuk mendukung penaklukan berkelanjutan dari kelompok yang mereka pelajari[5].

Alih-alih berusaha untuk mengajarkan kepada pembaca bagaimana cara paling baik dalam melihat masyarakat adat, Mario Vargas Llosa justru membiarkan sendiri kita untuk berefleksi. Pertarungan pemikiran antara “Aku” dengan Saul Zuratas yang tergambar dalam setiap adu pendapat memaksa kita turut berpikir. Pembaca akan diajak untuk memaknai ulang kehadiran masyarakat adat dalam kehidupan bernegara. Kehadiran mereka yang secara struktur termarginalkan menjadi sebuah fakta sosial, meskipun sayangnya belum menjadi pembicaraan awam sehari-hari.

Agaknya, akan begitu sulit bagi sebagian besar orang untuk “going native” seperti Saul Zuratas. Namun, setidaknya kita bisa menikmati bagaimana Mario Vargas Llosa merangkai petualangan “Aku” dalam menelusuri dan memaknai ulang keberadaan Machiguenga dalam rangka mencari keberadaan Saul Zuratas. Dengan membaca novel ini, kita dapat memahami bahwa penjajahan tak selalu berupa pendudukan melalui kekuatan militer. Penjajahan juga dapat hadir dalam bentuk cara pandang yang timpang, tulisan penuh nada peminggiran atau sesederhana berpikir bahwa penjajahan itu sendiri sudah tidak ada lagi di dunia ini.


[1] Barham, Bradford & Coomes, Oliver. (1996). Prosperity’s Promise: The Amazon Rubber Boom and Distorted Economic Development. Coloradot: Westview Press.

[2] https://www.theguardian.com/environment/2020/dec/26/alarm-over-amazon-road-project-brazil-bolsonaro-biodoverse-indigenous-communities

[3] https://www.peruviantimes.com/30/president-alan-garcias-policy-doctrinethe-dog-in-the-manger-syndrome/2860/

[4] Hira S. (2015) Scientific Colonialism: The Eurocentric Approach to Colonialism. In: Araújo M., Maeso S.R. (eds) Eurocentrism, Racism and Knowledge. Palgrave Macmillan, London. https://doi.org/10.1057/9781137292896_8

[5] Lewis, D. (1973). Anthropology and Colonialism. Current Anthropology, 14(5), 581-602. Retrieved January 20, 2021, from http://www.jstor.org.ezproxy.ugm.ac.id/stable/2741037

Penulis adalah Rayhan Wildan Ramadhani, mahasiswa Program Sarjana Antropologi Budaya UGM

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *