quo vadis
Esai

QUO VADIS?

Selesai. Akhirnya semua selesai. Klise, tapi semuanya terasa cepat berlalu. Ketika aku membalikkan punggung, tanpa tersadar empat tahun sudah kujalani. Tiga puluh enam purnama di Yogyakarta, dua belas purnama di Semarang. Dengan dinyatakannya diriku ini lulus Yudisium, maka dapatlah aku anggap satu babak hidupku telah ditutup. Kini, aku harus bersiap memasuki panggung baru. Bersiap memainkan […]

Esai

Dialek Dialek

Orang rela berinvestasi mahal demi pengalaman. Memperkaya jiwa dengan pengalaman baru, menyembuhkan nyawa dengan pengalaman berulang, atau keduanya sekaligus. Melancong bisa jadi opsi populer, tapi untuk Nara yang bulanannya pas-pasan, kenikmatan intim itu tidak perlu receh berlebih. Hari ini kawan Nara mengundang temu, sepakat adakan sesi obrol berdua atas rekomendasi Nara. Ada gelitik gairah yang […]

Esai

Sang Pengoceh: Tentang Memahami dan Menentukan Posisi

Informasi buku Judul: Sang Pengoceh Penulis: Mario Vargas Llosa Penerjemah: Ronny Agustinus Penerbit: OAK Tebal buku: 373 halaman Cetakan: 2016 Di depan sebuah galeri di salah satu sudut kota Firenze, tokoh “Aku”—yang identitasnya tidak dijelaskan secara detail–berhenti dan terpaku. Perhatiannya tertuju pada busur, anak panah, dayung pahatan, belanga serta sebuah maneken yang terbalut jubah pintal […]

Esai

Pandangan Sutan Sjahrir Tentang Sosialisme Politik

Sutan Sjahrir merupakan salah satu tokoh pejuang revolusi  yang menganut ajaran sosialisme Indonesia . Sjahrir memiliki pandangan bahwa sosialisme yang diterapkan di Indonesia harus menjunjung tinggi nilai manusia. Sosialisme Indonesia tidak pernah menganggap adanya perjuangan kelas. Melainkan perjuangan seluruh rakyat untuk keluar dari penindasan. Sjahrir menganggap sosialisme Indonesia tidak berdiri atas kekerasan dan paksaan. Sosialisme Indonesia […]

Esai

Penjajahan Atas Kaum Overthink

Hujan mengguyur sejak jam satu pagi. Dua belas jam kemudian pun belum kunjung berhenti dan langit semakin gelap. Grup Whatsapp tetiba penuh dengan laporan banjir lokal di mana-mana. Nara masih meringkuk dalam selimut, belum berniat beranjak. Satu tahun pasca krisis global, hari-hari Nara jadi lebih pendek. Rutinitas baru di antara dua tidur seakan berlangsung cuman […]

Esai

Semuanya Secukupnya

Nara baru hendak menulis saat seorang kawan meneleponnya. Ia jarang sekali menerima panggilan jarak jauh. Sembilan bulan adalah durasi yang lama baginya tidak mendengarkan ‘suara manusia’. Bagaimana pun, telepon tidak pernah bisa menggantikan dialog hati. “Sibuk bertahan hidup,” begitu tuturnya setiap kali ditanya kesibukan belakangan. Nara baru bangun dari mimpi panjang, jadi ia menyadari kegagapan […]

Esai

Membaca Itu Mendengar

Tentang Bagaimana Cara Membaca Dalam Hati Ketika saya sedang tenggelam membaca novel Jalan Bandungan-nya NH Dini suatu sore, saudara saya berceletuk,”Kok kamu membaca buku? Mau ujian ya?” Sontak saya terdiam, membeku. Saya sebenarnya mau menjelaskan yang saya baca itu novel, bukan buku kuliah. Tapi saya menahan, sebab tidak mungkin kekesalan ini saya alirkan ke saudara saya secara […]

Esai

Ikut Serta Menjaga Pancasila di Era Digital

1 Juni 1945, Soekarno bersama puluhan cendekiawan dan negarawan sedang berkumpul dalam Sidang BPUPKI di Gedung Cuo Sangi In (kini Gedung Pancasila). Sudah empat hari mereka beradu gagasan. Mereka belum menemukan mufakat. Padahal ada agenda penting, teramat penting bahkan, yang harus mereka tuntaskan, yaitu merumuskan ideologi dasar calon negara yang sampai saat itu masih belum […]

Esai

Warak Ngendog: Simbol Sejati Multikulturalisme Semarang

Halo smartizen! Kali ini infotembalang akan mengulas tentang simbol ikonik kota kita tercinta Semarang. Bagi teman-teman yang belum tahu, warga Kota Semarang memiliki simbol rekaan kebanggan bernama Warak Ngendog. Warak Ngendhog telah dikenal sebagai ikon kultural Kota Semarang, selain Tugu Muda dan Lawang Sewu sebagai ikon historis serta Lumpia sebagai ikon kuliner. Namun, sebenarnya apakah […]