Uncategorized

Laki-laki, Kok, Feminim, sih?

Share this:

Semarang (18/06/2021) Dewasa ini, sebutan feminin dan maskulin yang ditujukan kepada kalangan laki-laki telah menciptakan stigma baru di masyarakat. Seperti anggapan masyarakat bahwa laki-laki keren adalah laki-laki yang berotot. Lalu, apakah semua masyarakat memiliki pandangan yang sama dalam menanggapi adanya sebutan laki-laki feminin dan laki-laki maskulin?

Laki-Laki Maskulin di Pandangan Masyarakat

Sebutan maskulin bagi laki-laki di Indonesia telah lumrah dijumpai. Bahkan saat ini, tak jarang kita jumpai pendapat tentang laki-laki sejati adalah laki-laki yang maskulin. Hal ini juga disampaikan oleh narasumber Infotembalang melalui pesan suara Whatsapp.

“Kalau di Indonesia stigmanya itu ‘kan pria harus jantan, pria nggak boleh ini itu,” ungkap Rifaldoni pada Jumat (18/06).

“Dari aku pribadi, aku bukan orang yang terlalu mengotak-ngotakkan seseorang. Karena menurutku, semua orang nggak bisa memilih untuk dilahirkan seperti apa dan juga untuk menjadi apa, gitu, loh,” tambahnya.

Pandangan lain juga diutarakan oleh narasumber berinisial C, 24 tahun. Ia menjelaskan bahwa keberadaan laki-laki maskulin di Indonesia memang sudah sering dijumpai. Bahkan tak jarang ada laki-laki yang berusaha untuk terlihat maskulin di mata orang lain.

Laki-Laki Feminim, Wajarkah?

Hal ini tentu berbeda dengan pandangan masyarakat terhadap laki-laki feminin. Namun, dibalik stigma negatif yang ada, tak sedikit yang menganggap bahwa laki-laki feminin memiliki kepribadian yang lebih menyenangkan dibandingkan laki-laki maskulin.

“(Pria feminin itu) seru dan menyenangkan, apalagi dalam pertemanan,” jawab C pada Kamis (17/06).

Pernyataan berbeda disampaikan Rifaldoni yang mengaku dirinya kerap menjumpai laki-laki berkepribadian feminin. Baginya, yang perlu disorot bukanlah laki-laki feminin tersebut, melainkan bagaimana masyarakat sekitar memperlakukannya. Ia juga menceritakan bahwa tidak jarang muncul perundungan yang ditujukan kepada kawan femininnya. Bahkan mirisnya, perundungan tersebut berbentuk verbal maupun nonverbal hingga pelecehan seksual.

“Sekalipun dia feminin atau apapun, dia tetap manusia. Nggak bisa diperlakukan seenaknya. Justru aku lebih memikirkan bagaimana lingkungan men-treat dia,” jelasnya.

Rifaldoni juga menjelaskan bahwa kepribadian feminin pada seorang laki-laki merupakan hal yang wajar. Seorang laki-laki bebas menentukan dirinya sebagai seorang yang feminin atau maskulin. Sama seperti warna kesukaan, laki-laki juga berhak menyukai warna merah muda yang kerap dianggap sebagai warna perempuan di masyarakat.

So, Gimana, Sih, Harusnya Laki-Laki Itu?

C mengungkapkan bahwa menjadi seorang laki-laki maskulin bukanlah suatu keharusan. Bagi C, tidak perlu kita memaksakan diri untuk menuruti pendapat masyarakat terhadap diri kita.

“Ya, jadi diri sendiri aja,” sampainya singkat.

Pendapat serupa juga dipaparkan oleh Rifaldoni. 

“Ingin menjadi apa, itu kita yang menentukan dan nggak ada kata standar atau kata seharusnya, gitu, loh. Karena menurutku, itu adalah sebuah kebebasan. Selama dia oke, lingkungan dia oke, why not?

Namun terdapat keresahan di hati Rifaldoni tentang perspektif masyarakat di Indonesia yang mewajarkan perempuan maskulin namun memandang sebelah mata laki-laki feminin. Bahkan tidak sedikit yang melontarkan hinaan secara terang-terangan kepada laki-laki berkepribadian feminin.

Pesan dan Harapan

“Udah saatnya, sih, kita sama-sama merubah pola pikir kita tentang bagaimana men-treat seseorang. Karena, bagaimana pun dia, semua orang berhak mendapatkan hal yang baik, hal yang positif,” jelas Rifaldoni.

Rifaldoni juga menyampaikan bahwa perundungan dan perilaku negatif lain perlu dihilangkan. Daripada melakukan hal yang kurang bermanfaat, lebih baik kita saling menyebarkan energi positif kepada sesama.

Pesan lain juga diungkapkan oleh C. Menurutnya, pandangan masyarakat yang masih dangkal mesti diubah. Karena manusia tidak hanya dinilai dari sifat feminin dan maskulinnya.

“Selama individunya nyaman dengan apa yang mereka jalani, ya, lanjutin aja. Karena yang ngejalanin hidup setiap orang itu ya mereka sendiri, bukan masyarakat,” tuturnya menutup sesi diskusi.

Editor: Laurentia Stella V

Ilustrator: Annisa Putri P

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *