Uncategorized

Tembalang yang Dulu Bukanlah yang Sekarang

Di dalam bukunya yang berjudul Timeaus dan Critias, Plato mengisahkan mitos yang hingga kini masih sering kita bicarakan, yaitu Atlantis. Di dalam bukunya tersebut, Plato menyebutkan bahwa gerbang menuju Atlantis adalah dua pilar yang amat besar dan megah, yang disebut sebagai Pilar-pilar Herkules atau Pillars of Hercules . Konon katanya, kemegahan Pilar-pilar Herkules akan membuat orang-orang menganga lebar-lebar ketika memasuki Atlantis.

Meskipun kisah Atlantis masih diperdebatkan kebenarannya, perasaan terkagum-kagum seperti yang dikisahkan Plato dapat dirasakan pula oleh Smartizen saat ini. Bila Smartizen hendak menuju Tembalang lewat Ngesrep, terdapat dua Pilar Herkules yang siap menyambut Smartizen sekalian. Namun, bukannya pilar-pilar yang tersusun dari batu marmer putih, Pilar-pilar Herkules yang dimiliki Tembalang adalah dua gedung apartemen yang tampak menjulang tinggi nan megah. Pilar-pilar Herkules modern tersebut, dengan kebesarannya dan kemegahannya, seolah-olah hendak menunjukkan kepada kita bahwa Tembalang adalah Atlantis yang baru, bahwa Tembalang adalah tempat yang modern, makmur, dan menjadi pusat perhatian.

Ungkapan bahwa Tembalang adalah Atlantis yang baru sepertinya tidak berlebihan. Terhitung terdapat enam gedung apartemen yang direncakan akan dibangun di Tembalang. Dua di antaranya sudah dapat dilihat dengan mata telanjang, yaitu The Alton Apartment dan Cordova Edupark. Kesan bahwa Tembalang kini telah menjadi primadona para investor berkantong tebal semakin diperkuat dengan fakta bahwa terdapat puluhan real estate yang tersebar di seluruh wilayahnya. Mulai dari Citragrand yang sangat elite hingga Perumnas Bukit Dinar Mas yang diperuntukkan bagi masyarakat kelas menengah, semua ada di Tembalang.

Ibarat kisah kesuksesan Merry Riana dalam kisah Mimpi Sejuta Dolar, Tembalang memerlukan proses dan waktu yang cukup panjang untuk dapat meraih predikat wilayah idaman di Kota Semarang. Dapat dikatakan, kisah kemajuan perkembangan Tembalang bermula dari dipindahnya semua program S1 Universitas Dipenogoro yang sebagian berada di Kampus Pleburan ke Kampus Tembalang. Pada tahun 2010, UNDIP memutuskan untuk merelokasi 5 fakultasnya, yaitu Fakultas Ekonomika dan Bisnis, Fakultas Hukum, Fakultas Ilmu Sosial dan Politik, Fakultas Ilmu Budaya, dan Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan. Akibatnya, Tembalang yang dahulu merupakan kawasan yang lengang dan cukup sepi tiba-tiba saja berubah menjadi kawasan yang ramai dan padat.

Melansir data yang dirilis oleh Kementrian Riset, Teknologi, dan Perguruan Tinggi, pada tahun 2019 ini terdapat 45.644 mahasiswa aktif yang berkuliah di UNDIP dan Polines. Jumlah mahasiswa sebesar itu tentu membawa implikasi yang luar biasa bagi Tembalang, khususnya di sektor ekonomi. Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Sipahutar dan Susilowati pada tahun 2012, terhitung bahwa perpindahan kampus UNDIP Pleburan ke Kampus UNDIP Tembalang membawa total nilai nominal dampak positif sebanyak Rp1.500.568.432.066,00 atau sekitar 1,5 trilyun rupiah. Nilai tersebut dapat menjadi lebih fantastis ketika perkembangan kampus-kampus selain UNDIP yang berada di Tembalang, seperti Politeknik Negeri Semarang (Polines), Politeknik Kesehatan Semarang (Poltekes), Universitas Pandanaran (UNPAND), dan Universitas Muhammadiyah Semarang (Unimus) dimasukkan dalam variabel penelitian. Tentu di tahun 2019 ini jumlah valuasi tersebut semakin bertambah besar, apalagi dengan fakta dibukanya ruas tol Semarang-Solo pada Desember 2018, di mana kawasan Tembalang memiliki akses yang sangat dekat dengan dua gerbang tol, yaitu gerbang tol Tembalang dan gerbang tol Banyumanik.

Banjir puluhan ribu mahasiswa serta akses yang luar biasa mudah telah mendorong Tembalang untuk berganti rupa. Terdapat banyak sekali perubahan yang terjadi di Tembalang, sampai-sampai bila saja ada orang yang pergi dari Tembalang di tahun 2010 dan kembali saat ini, ia akan sulit mengenali Tembalang yang sekarang. Mungkin, sekarang ini terlintas di benak Smartizen sekalian pertanyaan seperti apakah rupa Tembalang yang dulu? Bila Smartizen penasaran, berikut ini infotembalang akan membawa kalian menuju Tembalang yang dulu. Mari!

  • Kawasan Kampus UNDIP Tembalang

Seperti yang telah disampaikan sebelumnya, perubahan Tembalang diinisiasi oleh pemindahan Kampus UNDIP Pleburan ke Kampus UNDIP Tembalang. Sebelum terjadi pemindahan tersebut, wilayan Kampus UNDIP Tembalang adalah wilayah yang relatif sepi dan sangat lengang. Nyaris tidak ada kendaraan bermotor yang berseliweran di sekitaran wilayah kampus di atas pukul 21.00. Kawasan yang kini menjadi Fakultas Ekonomi masih merupakan lahan kosong yang ditumbuhi semak belukar. Jalan menuju Stadion UNDIP belum terdiri dari dua jalur seperti sekarang ini. Rusunawa UNDIP dulu sempat menjadi salah satu bangunan terbesar dan termegah yang ada di kawasan UNDIP Tembalang. Bila kini teman-teman dapat menikmati sore hari di kawasan Waduk Pendidikan Dipenogoro, dahulu tempat itu hanya merupakan bantaran sungai biasa dengan lebar tak sampai 10 m. Selain tempat-tempat itu, beberapa bangunan lain yang dulunya tidak lebih dari kawasan lahan kosong adalah SPBU Undip Tembalang, Masjid Kampus Dipenogoro, dan Gedung Training Center II UNDIP. Suasana kampus UNDIP pun di masa dulu terkesan agak terpelosok karena banyaknya lahan kosong dan semak belukar serta pepohonan di seklilingnya.

  • Pertigaan Sirojudin-Seodarto

Salah satu persimpangan utama di Tembalang adalah pertigaan antara Jl. KH. Sirojudin dan Jl. Prof. Soedarto. Dulu, pertigaan itu terkenal dengan pertigaan Totem karena tepat di pojok pertigaan tersebut terdapat sebuah toserba bernama Toko Tembalang, yang sempat menjadi salah satu toko terbesar dan terlengkap di kawasan UNDIP Tembalang dan sekitarnya. Kini bangunan Totem sudah hilang tak berbekas digantikan dengan bangunan ruko. Selain itu, APILL atau lampu bangjo yang terdapat di pertigaan tersebut adalah barang yang relatif baru di Tembalang. Keberadaan bangjo tersebut menjadi sangat spesial karena bangjo itu adalah satu-satunya bangjo yang berada di kawasan Tembalang atas. Bangjo selanjutnya baru dapat Smartizen temui ketika berada di kawasan Pucang Gading atau Jalan Fatmawati setelah RSUD Kota Semarang.

  • Tempat Nongkrong

Bila teman-teman berkuliah di kawasan Tembalang kisaran tahun 2010, jangan harap dapat dengan mudah menemukan tempat nongkrong yang nyaman dan berkelas seperti kafe Antara Kata atau Jendela. Tidak banyak tempat-tempat nongkrong yang asyik di masa itu di sekitaran Tembalang. Para mahasiswa yang hendak nongkrong kemungkinan besar hanya akan mendapati burjo-burjo yang pada waktu itu pun belum terlalu banyak. Salah satu burjo terbesar di masa itu yang hingga kini masih berdiri adalah Burjo Totem 1 yang terdapat di Jl. KH. Sirojudin. Ruas Jl. Banjarsari Selatan yang kini penuh dengan kafe-kafe dan restoran tempat Smartizen bisa menikmati waktu kumpul bersama teman-teman pun dulu tak lebih dari ruas jalan kecil yang gelap, yang dulu orang melewati jalan itu hanya ketika hendak menuju kawasan Pedalangan, Banyumanik. Selain itu, dulu di sepanjang jalan tersebut teman-teman dapat menikmati pemandangan rawa-rawa yang membentang di sepanjang sisi barat jalan, yang kini telah hilang berubah menjadi kawasan perumahan Graha Estetika.

  • Lalu lintas

Teman-teman Smartizen kadang mungkin merasa jengah dengan kemacetan dan kepadatan lalu lintas di sekitar Tembalang. Padahal, sudah sejak beberapa tahun belakangan pemerintah daerah telah memperlebar jalan hingga seperti yang sekarang ini. Dulu, hampir mustahil terdapat kemacetan di sekitar Tembalang, meskipun di saat-saat rush hour. Pembatas jalan yang terdapat di sekitaran pertigaan Tirto Agung pun baru didirikan setelah perpindahan Kampus UNDIP Pleburan ke Tembalang.

Dampak keramaian lalu lintas terasa pada perbaikan infrastukrur jalan. Teman-teman Smartizen mungkin saat ini merasa aman ketika hendak menuju kawasan Tembalang bawah di atas pukul 20.00, namun tidak dengan dulu. Sekitar 10 tahun yang lalu, hanya mereka yang bermental kuat yang berani untuk melewati turunan di Jl. Imam Suprapto atau lebih dikenal dengan Sigar Bencah. Jalan yang sempit, curam, tanpa pembatas dan penerangan, belum ditambah dengan mitos keangkeran Sigar Bencah akan membuat orang-orang berpikir dua kali sebelum melintasi kawasan tersebut di malam hari. Namun kini, sampai pukul 22.00 saja jalanan di kawasan itu masih ramai dilewati kendaraan bermotor.

  • Persawahan dan Perkebunan

Di kisaran tahun 2010-an, teman-teman Smartizen dapat bermain-main ke hamparan sawah dan perkebunan di kawasan Tembalang. Dulu, hampir sebagian besar mata pencaharian penduduk lokal Tembalang adalah bertani dan bercocok tanam. Salah satu kawasan pertanian dan perkebunan yang luas terdapat di daerah Bulusan. Salah satu tim Infotembalang menceritakan kisahnya bahwa dulu semasa kecil ia masih sering bermain di persawahan di belakang rumahnya yang terdapat di daerah Perumahan KORPRI Bulusan. Ia masih bisa menikmati pemandangan hamparan padi yang menguning, melihat-lihat aktivitas petani yang membajak sawah menggunakan kerbau, atau bermain di ladang-ladang jagung, singkong, dan kacang. Dulu ia juga dinasehati agar tidak bermain terlalu jauh ke dalam hutan lebat yang masih terdapat di sekitaran rumahnya karena ditengarai masih terdapat harimau dan hewan-hewan buas lainnya. Kini, nyaris semua lahan pertaniah telah beralih fungsi menjadi kawasan perumahan atau real estate, seperti Perumahan Tembalang Regency, Villa Tembalang, atau Bukit Cemara Residence.

  • Rumah Penduduk

Kawasan Tembalang dulu lekat dengan kesederhanaan penduduknya. Karena mayoritas masih merupakan petani, kebanyakan rumah yang terdapat di Tembalang masih berdindingkan papan kayu dan berlanggam rumah pedesaan Jawa pada umumnya, lengkap dengan halaman luas yang ditumbuhi berbagai pohon dan tanaman. Bahkan, dulu salah satu rumah di Jl. Gondang Raya menjadi target program Bedah Rumah yang pada masa itu masih ditayangkan di RCTI. Kini, hampir semua rumah di Tembalang, khususnya di sekitaran UNDIP, direnovasi dengan arsitektur kekinian dan sebagian lainnya dialihfungsikan menjadi kos.

Bagaimana Smartizen sekalian? Terasa sekali bukan perubahan drastis yang dialami oleh Tembalang. Tembalang yang dulu bukanlah yang sekarang. Dulu Tembalang masih merupakan kawasan tertinggal dan lengang, kini dipenuhi dengan gedung apartemen, kafe, dan kendaraan bermotor. Namun, meskipun perubahan yang terjadi membawa pengaruh positif di bidang ekonomi dan kesejahteraan masyarakat, perlu diwaspadai dampak negatifnya terhadap lingkungan. Keberadaan apartemen, kos-kos eksklusif, dan berbagai macam restoran dan kafe tentu akan berdampak pada ketersediaan air tanah, belum lagi potensi peningkatan jumlah sampah dan penyusutan ruang terbuka hijau. Teman-teman Smartizen sebagai generasi muda dan cerdas diharapkan memiliki kesadaran dan kemauan untuk menjaga Tembalang agar tetap menjadi kawasan hunian dan belajar yang nyaman dan menyenangkan! Cheers!

Refrensi:

Foto: albahrainfpikundip.wordpress.com

Julius Ardiles Brahmantya
Cultural Anthroplogy UGM 2017 | Student, writers | AMDG

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *