Ngobrol Penting

Ikut Serta Menjaga Pancasila di Era Digital

1 Juni 1945, Soekarno bersama puluhan cendekiawan dan negarawan sedang berkumpul dalam Sidang BPUPKI di Gedung Cuo Sangi In (kini Gedung Pancasila). Sudah empat hari mereka beradu gagasan. Mereka belum menemukan mufakat. Padahal ada agenda penting, teramat penting bahkan, yang harus mereka tuntaskan, yaitu merumuskan ideologi dasar calon negara yang sampai saat itu masih belum pasti nasibnya.

Satu per satu pembicara telah mengungkapkan isi pikiran mereka. Tiba saatnya giliran Bung Karno berdiri di hadapan mereka semua. Dengan yakin, tanpa teks, Ia menyampaikan gagasannya tentang lima sila yang ia yakini dapat menjadi landasan utama negara yang multikultural ini. Lima sila itu bernama Pancasila. Ruang rapat yang ramai perlahan senyap. Semua hadirin khidmat mendengarkan pidato Bung Karno. Di akhir sidang, para hadirin bersepakat untuk menerima gagasan Pancasila milik Bung Karno sebagai dasar negara kita, Indonesia.

Sejak 2017, tanggal 1 Juni ditetapkan sebagai hari libur nasional untuk memperingati Hari Lahir Pancasila. 74 tahun sudah Pancasila berhasil melewati terjangan gelombang zaman. Ia tidak tenggelam. Ia tetap berdiri dengan gagahnya untuk menjadi pedoman dasar negara kesatuan yang maha luas dan sangat beragam ini. Namun, kini Pancasila menghadapi tantangan yang belum pernah dihadapi sebelumnya, tantangan yang mengancam dapat mencerabut nilai-nilai Pancasila dari kehidupan bernegara masyarakat Indonesia. Tantangan itu adalah globalisasi yang ditandai dengan dimulainya era digital.

Globalisasi yang melahirkan era digital memungkinkan ideologi-ideologi asing masuk ke dalam sendi-sendi kehidupan bermasyarakat. Kini, dampaknya mulai terasa nyata. Generasi muda mulai lupa sila-sila Pancasila karena tak pernah diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Smartizen, kita sebagai warga negara Indonesia memiliki kewajiban untuk menjaga Pancasila agar tidak hanyut dalam pergantian zaman di era digital ini. Maka dari itu, infotembalang ingin memberikan beberapa tips and tricks agar Smartizen sekalian dapat menerapkan nilai-nilai Pancasila dengan cara yang sesuai dengan gaya hidup era digital masa kini.

  • Saring sebelum sharing.

Smartizen, salah satu sisi negatif dari hadirnya era digital adalah keterbukaan informasi yang nyaris tanpa batas. Siapapun dapat memperoleh informasi apapun. Sayangnya, banyak dari kita yang tidak menyaring terlebih dahulu informasi-informasi yang didapatkan. Sikap seperti inilah yang menyebabkan banyaknya informasi bohong atau hoax yang beredar di masyarakat. Kita sebagai netizen cerdas harus menyaring dan memilah terlebih dahulu informasi-informasi yang akan kita bagikan ke orang lain. Jangan sampai kita malah turut menyebarkan informasi-informasi yang dapat memecah belah persatuan masyarakat Indonesia, seperti yang diamanatkan pada sila ke-3 Pancasila.

  • Dengar sebelum judging

Dari sekian banyak ciri netizen Indonesia, mudah menghakimi adalah salah satunya. Seringkali para netizen terlalu cepat menilai suatu isu atau persoalan yang ada di dunia maya, bahkan sebelum mengetahui kebenaran dari persoalan tersebut. Bila demikian, tidak heran ketika isi komentar postingan di Instagram, FB, atau Twitter sering dipenuhi dengan perdebatan-perdebatan panas yang tak jarang dibumbui dengan kata-kata umpatan. Padahal, kita sudah diberi pedoman oleh Pancasila dalam hal mendiskusikan persoalan, yaitu dengan bermusyawarah. Dalam bermusyawarah, kita diharapkan dapat mendengarkan isi pikiran lawan argumen kita. Maka dari itu, infotembalang mengajak Smartizen agar mau mendengarkan dan memahami isi pikiran lawan argumen. Setelah itu, barulah kita dapat mengeluarkan argumen-argumen yang ingin diutarakan, tentunya dengan kata-kata yang santun dan cerdas.

  • Peduli dan Peka

Salah satu tuduhan yang sering dialamatkan kepada era digital adalah menjauhkan yang dekat dan mendekatkan yang jauh. Smartizen tentu paham dengan ungkapan tersebut. Kerap kali kita terlalu asyik dengan gawai kita dan abai dengan lingkungan sekitar. Tapi, sadarkah Smartizen bahwa masih banyak orang-orang di sekitar kita yang membutuhkan kepedulian dan kepekaan teman-teman semua?

Hadirnya situs-situs fundraising dan penggalangan petisi seperti change.org dan kitabisa.com adalah contoh yang dapat memudahkan kita untuk melaksanakan sila ke-5 Pancasila, yaitu keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia. Dengan adanya situs-situs tersebut, ditambah dengan kepedulian dan kepekaan kita, bukan tidak mungkin teman-teman Smartizen dapat menjadi agent of change yang dapat membawa perubahan besar bagi lingkungan sosial di sekitar. Yuk, daripada menebar hoax, kita sebagai generasi muda yang cerdas mulai menunjukkan manfaat dari era digital bagi kehidupan sosial masyarakat Indonesia.

Demikian beberapa tips and trick dari infotembalang agar teman-teman tetap dapat menerapkan nilai-nilai Pancasila di dalam era digital. Semoga kita semua dapat terus menjaga Pancasila sebagai landasan dasar kehidupan berbangsa dan bernegara di negara tercinta kita, Indonesia. Merdeka!   

sumber foto: ANTARA FOTO/Irfan Anshori

Julius Ardiles Brahmantya
Cultural Anthroplogy UGM 2017 | Student, writers | AMDG

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *