Esai

Semuanya Secukupnya

Share this:

Nara baru hendak menulis saat seorang kawan meneleponnya. Ia jarang sekali menerima panggilan jarak jauh. Sembilan bulan adalah durasi yang lama baginya tidak mendengarkan ‘suara manusia’. Bagaimana pun, telepon tidak pernah bisa menggantikan dialog hati.

“Sibuk bertahan hidup,” begitu tuturnya setiap kali ditanya kesibukan belakangan. Nara baru bangun dari mimpi panjang, jadi ia menyadari kegagapan artikulasinya.

Nara mendesak menegaskan maksud dan tujuan panggilan itu sesaat kawannya menggagaskan kekecewaan karena Nara absen dari pesta malam pergantian tahun. Alibi menghabiskan waktu bersama keluarga tersayang adalah klasik, alih-alih Nara mencintai kehadiran keluarganya di rumah. Namun si organisatoris itu perantau, mau pulang sulit, menetap pun tidak diinginkannya. Angsur-angsur Nara memperoleh empati terhadap kawannya.

“Kau takut?” tanya kawannya.

Nara tidak merasa perlu membuktikan bahwa orang-orang dengan prokes ketat pun bisa terjangkit, apalagi yang tidak parno sama sekali. Ia sudah melihat sendiri. “Aku paling cuman keluar teras, manasin motor sama kasih makan kucingku,” sahut Nara. Bertahan selama mungkin di rumah opsi paling aman, tapi bukan berarti minim risiko. Konsekuensinya sama berbahaya kalau tidak disadari.

Percakapan seketika teralihkan. Dalam momen paradoksal, kawan Nara mereka ulang pengalamannya jadi pembicara di banyak forum dan betapa mudahnya dia mendapatkan pekerjaan sambilan. Nara turut berbahagia, mengingat banyak orang merasa sedang tidak beruntung. Sampai Nara akhirnya mengakui dirinya mengalami perlambatan proses yang lumayan; studinya, latihannya, karirnya, proyek sosialnya, pergaulannya.

Kawan organisatoris Nara kenal Nara. Nara adalah perfeksionis yang berambisi dan tau persis apa yang diburunya, tapi dia mendengar Nara yang berbeda kali ini. Nara tidak menyangkal, tapi periode belakangan menguras berlipat-lipat energi dari biasanya. Ketika bertahan serasa nyaris mati, maka benteng terakhir bagi Nara adalah cukup tetap waras. Inilah konsekuensinya terus mendekam di rumah dan tidak berinteraksi dengan ‘suara manusia’. Menjaga kewarasan dengan mengganti cara berburu, karena esensi perburuan semata bukan hasil perburuannya.

“Jangan stres. Kalau sama hal-hal kecil sudah bisa bahagia, so what’s the point of getting more?” demikian Nara teringat petuah ‘untuk apa memiliki seluruh dunia tetapi kehilangan jiwamu’, merasa orang-orang juga diingatkan bersyukur dan belajar mencukupkan diri. “Tapi bisa jadi cepet puas kalau gitu. Jangan pelit.”

That’s different context,” batin Nara, tidak menyangkal tapi juga tidak sepenuhnya meyakini pendapat kawannya. Nara tergelak.

J. Rendra Trijadi
Rendra kepalang tenggelam dalam dunia sastra sejak tergoda mengisi rubrik cerpen dan puisi bulanan di tabloid sekolahnya semasa SMP. Belasan tahun berselang, Rendra masih menjadi penulis bohemian yang konsisten penyempurnaannya, sambil bergerilya dari acara ke acara, peristiwa ke peristiwa, mendalami perilaku demi perilaku masyarakat sebagai jurnalis.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *