Ngobrol Penting

Warak Ngendog: Simbol Sejati Multikulturalisme Semarang

Halo smartizen! Kali ini infotembalang akan mengulas tentang simbol ikonik kota kita tercinta Semarang. Bagi teman-teman yang belum tahu, warga Kota Semarang memiliki simbol rekaan kebanggan bernama Warak Ngendog. Warak Ngendhog telah dikenal sebagai ikon kultural Kota Semarang, selain Tugu Muda dan Lawang Sewu sebagai ikon historis serta Lumpia sebagai ikon kuliner. Namun, sebenarnya apakah itu Warak Ngendog?

Menurut Dr. Triyanto, M.A., seorang dosen senior di Jurusan Seni Rupa Universitas Negeri Semarang, Warak Ngendog adalah sebuah makhluk rekaan berwujud hewan berkaki empat, berekor, berbadan seperti kambing, berleher panjang seperti unta, berkepala naga, dan seluruh tubuhnya berbulu keriting seperti bulu pitik walik berwarna-warni. Tentu kalau dibayangkan maka akan terasa cukup spektakuler, terutama bagi smartizen yang belum pernah melihat Warak Ngendog. Beruntung, Pemerintah Kota Semarang telah berinisiatif mendirikan patung Warak Ngendog yang dapat teman-teman saksikan secara langsung di Taman Pandaran, Jl. Pandaran, tepat di seberang KFC Pandanaran.

Menurut catatan sejarah, seperti yang diutarakan oleh Budiman di dalam essainya tentang tradisi Dugderan, Warak Ngendok diprediksi muncul sekitar akhir abad ke-19. Ia mengungkapkan bahwa Warak Ngendog tercatat muncul pertama kali dalam tradisi Dugderan pada masa Ario Purboningrat yang menjabat sebagai Walikota Semarang pada tahun 1881—1897. Bila benar demikian, maka usia Warak Ngendok sebagai ikon kultural asli masyarakat Semarang telah berusia sekitar dua abad lebih, suatu hal yang patut dibanggakan karena masyarakat Semarang telah berhasil menjaga ikon kultural tersebut sampai sejauh ini.

Warak Ngendok sebagai ikon kultural tentu memiliki makna mendalam yang mencerminkan kebudayaan masyarakat Semarang. Dr. Triyanto mengatakan bahwa Warak Ngendog dimaknai oleh masyarakat Kota Semarang sebagai simbol akulturasi budaya atas dasar pertimbangan karena keseluruhan perupaannya mempresentasikan simbol budaya tiga etnis warga masyarakat Kota Semarang, yaitu etnis Jawa melalui wujud badan kambing, etnis Arab melalui perupaan leher unta, etnis Cina melalui perupaan kepala naga. Sungguh unik nan indah bukan ketika keberagaman etnisitas dapat dipadukan menjadi simbol kultural yang begitu kreatif?

Sejarah Kota Semarang sebagai kota pelabuhan tak akan pernah bisa lepas dari sejarah keberagaman manusia di dalamnya, baik dalam hal etnis, agama, maupun budaya. Menariknya, warga Semarang menyadari bahwa keberagaman tersebut tidak perlu dipertentangkan, melainkan patut untuk dirayakan dan disyukuri bersama. Warak Ngendog, bersama dengan produk-produk kultural Semarang lainnya, adalah refleksi nyata dari keharmonisan warga Semarang dalam menyikapi keberagaman di antara mereka.

Infotembalang berharap melalui penjelasan singkat ini smartizen mendapat secuil pemahaman tentang betapa berharganya Warak Ngendog bagi masyarakat Kota Semarang. Sudah sepantasnya bagi kita yang bermukim di Semarang, baik para perantau ataupun warga asli, untuk menjaga simbol ikonik ini. Dengan menjaga Warak Ngendog dan makna yang terkandung di dalamnya, kita sekaligus menjaga keharmonisan di dalam keberagaman, menjaga multikulturalisme Kota Semarang. Cheers!

Refrensi:

Triyanto, dkk. 2013. Warak Ngendog: Simbol Akulturasi Budaya Pada Karya Seni Rupa. Jurnal Komunitas 5 (2) (2013) pp. 162—171.

Budiman, M. A. 2013. Semarang Tradition: Dugderan. Prosiding The 5th International Conference on Indonesian Studies: “Ethnicity and Globalism”. Jogjakarta, Indonesia. pp. 69—75.

Foto oleh: Agus Budi Santoso

Julius Ardiles Brahmantya
Cultural Anthroplogy UGM 2017 | Student, writers | AMDG

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *