Komunitas dan Media Informasi InfoTembalang
Pendidikan

KKN-T IDBU 36 Universitas Diponegoro Implementasi Flat Bed Dryer Jagung: Pendampingan SOP GAPOKTAN Desa Kluwih

Diterbitkan pada 09 Aug 2026

← Beranda
KKN-T IDBU 36 Universitas Diponegoro Implementasi Flat Bed Dryer Jagung: Pendampingan SOP GAPOKTAN Desa Kluwih

KKN-T IDBU 36 Universitas Diponegoro Implementasi Teknologi Flat Bed Dryer dan Pendampingan Operasional bagi GAPOKTAN Jagung Desa Kluwih

Saya Aland Budiardjo, mahasiswa Program Studi Teknik Industri, Fakultas Teknik, Universitas Diponegoro angkatan 2023 dengan NIM 21070123190076, melaksanakan program kerja Kuliah Kerja Nyata Tematik 36 Universitas Diponegoro Tahun 2025/2026 di Desa Kluwih, Kecamatan Bandar, Kabupaten Batang, Jawa Tengah, bekerja sama dengan GAPOKTAN Desa Kluwih. Salah satu program yang saya jalankan berjudul Implementasi Teknologi Flat Bed Dryer Jagung dan Pendampingan Operasional bagi GAPOKTAN Jagung Desa Kluwih, sebagai program multidisiplin kedua dalam rangkaian KKN ini.

Gambar Artikel

Desa Kluwih merupakan salah satu desa di Kecamatan Bandar, Kabupaten Batang, yang sebagian besar penduduknya bekerja di sektor pertanian dengan jagung sebagai komoditas unggulan. Hampir seluruh siklus perekonomian warga bergantung pada hasil panen jagung, mulai dari penanaman, pemanenan, hingga proses pascapanen sebelum jagung dijual ke pasar atau digunakan sebagai bahan baku pakan ternak. Berdasarkan hasil observasi lapangan, proses pascapanen jagung di desa ini masih menghadapi beberapa kendala, terutama pada penggunaan mesin Flat Bed Dryer yang belum memiliki Standar Operasional Prosedur (SOP) yang baku. Akibatnya, proses pengoperasian mesin berjalan tidak konsisten antar pengguna, tergantung kebiasaan masing-masing individu yang mengoperasikannya, sehingga berisiko menurunkan kualitas hasil pengeringan dan memperpanjang waktu proses. Oleh karena itu, kelompok kami menetapkan optimalisasi teknologi pascapanen jagung, khususnya penyusunan SOP untuk flat bed dryer jagung, sebagai salah satu program prioritas.

Program ini berupa sosialisasi dan pendampingan penerapan SOP Pengoperasian Flat Bed Dryer kepada anggota GAPOKTAN Jagung Desa Kluwih. Tujuannya adalah meningkatkan pemahaman dan keterampilan peserta dalam menerapkan SOP secara konsisten pada proses pengeringan jagung pascapanen, sehingga dapat mendukung efisiensi proses, menjaga kualitas hasil pengeringan, serta meminimalkan risiko kesalahan operasional maupun kecelakaan kerja di lapangan. Program ini juga mendukung pencapaian SDGs Tujuan 9 yaitu Industry, Innovation and Infrastructure, melalui pengembangan dan penerapan teknologi tepat guna di bidang pertanian. Dengan adanya SOP yang terstandar, diharapkan teknologi yang sudah tersedia di lapangan dapat dimanfaatkan secara lebih optimal tanpa perlu investasi tambahan pada peralatan baru.

Kegiatan dilaksanakan pada 24 Juli 2026 di Desa Kluwih melalui pemaparan materi mengenai SOP Pengoperasian Flat Bed Dryer, demonstrasi penerapan setiap tahapan SOP, serta praktik langsung bersama anggota GAPOKTAN. Pemaparan materi mencakup penjelasan mengenai bagian-bagian utama mesin seperti rangka dan mesh, blower, serta kompor gas sebagai sumber panas, sebelum masuk ke demonstrasi setiap tahapan SOP secara langsung menggunakan mesin yang tersedia di lokasi. Peserta kemudian mencoba langsung mengoperasikan mesin sesuai urutan SOP yang telah dijelaskan sebelumnya.

Sebagai media pendukung, disusun juga Buku Panduan Operasional Flat Bed Dryer yang merangkum sepuluh langkah kerja pengeringan jagung mulai dari pemasangan regulator gas, penyalaan gas dan blower, pengaturan suhu pada kisaran 50 sampai 60 derajat Celsius, pengadukan jagung, hingga proses pengangkatan hasil pengeringan, lengkap dengan tips keselamatan kerja dan checklist inspeksi harian untuk perawatan mesin. Langkah pertama adalah pemasangan regulator gas pada tabung sebagai persiapan awal sebelum kompor dinyalakan, dengan memastikan pemantik dalam keadaan terbuka penuh dan putaran regulator masih tertutup. Langkah kedua adalah memasukkan jagung ke dalam mesin melalui bagian atas mesh secara bertahap dari karung, dilakukan secara perlahan agar mesh tidak rusak dan hasil pengeringan tetap merata.

Langkah ketiga adalah menyalakan gas, dibuka secara bertahap dan dinyalakan dari api kecil terlebih dahulu sebelum dibesarkan sesuai kebutuhan. Langkah keempat adalah menyalakan blower untuk mengalirkan udara panas menuju ruang pengeringan, disesuaikan dengan besar nyala api agar aliran udara tetap seimbang. Langkah kelima adalah mengatur suhu ruang pengeringan pada kisaran 50 hingga 60 derajat Celsius, dengan mengatur besar-kecilnya api gas serta kecepatan blower sesuai jumlah jagung yang dikeringkan. Langkah keenam adalah mengaduk jagung secara merata menggunakan alat pengaduk yang datar, bukan yang runcing seperti sekop, agar biji jagung tidak rusak.

Langkah ketujuh adalah memeriksa kondisi jagung dari beberapa titik berbeda untuk memastikan tingkat kematangan pengeringan sudah merata di seluruh permukaan. Langkah kedelapan adalah mematikan sumber panas atau gas terlebih dahulu setelah jagung dinyatakan matang. Langkah kesembilan adalah mematikan blower setelah sumber panas benar-benar padam, agar sisa panas dapat terbuang secara maksimal dari ruang pengeringan. Langkah terakhir, kesepuluh, adalah mengangkat jagung setelah menunggu sekitar 15 hingga 30 menit, agar suhu jagung tidak terlalu panas saat ditangani oleh petani. Buku panduan ini juga dilengkapi tips keselamatan kerja seperti larangan meninggalkan mesin tanpa pengawasan dan memastikan gas serta blower dimatikan total sebelum meninggalkan lokasi, ditambah lembar catatan pengeringan dan checklist inspeksi harian untuk perawatan mesin.

Program terlaksana sesuai rencana. Kegiatan sosialisasi, demonstrasi, dan pendampingan penerapan SOP telah dilaksanakan kepada anggota GAPOKTAN, dan peserta yang hadir memperoleh pemahaman mengenai tahapan pengoperasian Flat Bed Dryer sesuai SOP serta pentingnya penerapan prosedur yang terstandar dalam proses pengeringan jagung. Antusiasme peserta cukup terlihat terutama pada sesi demonstrasi dan praktik langsung, di mana anggota GAPOKTAN dapat mencoba sendiri setiap tahapan sesuai urutan SOP yang telah dijelaskan. Namun, tingkat kehadiran anggota GAPOKTAN belum optimal sehingga penyampaian materi dan pendampingan belum dapat menjangkau seluruh sasaran program secara langsung. Hal ini menjadi catatan penting untuk perbaikan pelaksanaan program serupa di masa mendatang, misalnya dengan menyesuaikan waktu pelaksanaan agar lebih banyak anggota GAPOKTAN dapat hadir.

Sebagai tindak lanjut, poster SOP dan materi pendampingan diserahkan kepada GAPOKTAN sebagai media edukasi dan pedoman operasional yang dapat digunakan secara mandiri oleh seluruh anggota. Diperlukan juga pendampingan lanjutan serta koordinasi berkelanjutan dengan pengurus GAPOKTAN agar penerapan SOP dapat dilakukan secara konsisten dan dipahami oleh seluruh anggota, sehingga penggunaan Flat Bed Dryer dapat berjalan secara efektif, aman, dan berkelanjutan.

Secara keseluruhan, program ini diharapkan dapat menjadi langkah awal dalam mendorong tata kelola pascapanen jagung yang lebih baik di Desa Kluwih. Dengan adanya SOP yang jelas dan dipahami bersama, diharapkan proses pengeringan jagung dapat berjalan lebih aman, efisien, dan menghasilkan kualitas jagung yang lebih konsisten, sehingga pada akhirnya turut meningkatkan nilai jual hasil panen dan kesejahteraan petani anggota GAPOKTAN Desa Kluwih. Program ini juga menjadi bagian dari komitmen mahasiswa KKN dalam menerapkan ilmu yang dimiliki untuk memberikan solusi yang aplikatif dan berkelanjutan bagi masyarakat desa.

Selain dari sisi teknis pengoperasian mesin, program ini juga menekankan pentingnya budaya kerja yang tertib dan terdokumentasi di lingkungan GAPOKTAN. Melalui lembar catatan pengeringan dan checklist inspeksi harian yang disusun bersama buku panduan, setiap proses pengeringan dapat dievaluasi secara berkala, sehingga permasalahan seperti keterlambatan pengeringan, hasil yang tidak merata, maupun kerusakan mesin dapat lebih cepat diidentifikasi dan ditindaklanjuti oleh pengurus GAPOKTAN. Dengan pencatatan yang konsisten, GAPOKTAN juga memiliki data historis yang dapat digunakan untuk mengevaluasi kinerja mesin dari waktu ke waktu, serta merencanakan perawatan atau penggantian komponen secara lebih terjadwal.

Dengan berakhirnya rangkaian kegiatan ini, harapan besar diletakkan pada keberlanjutan penerapan SOP oleh GAPOKTAN Desa Kluwih secara mandiri. Dukungan dari perangkat desa dan pendampingan berkelanjutan dari pihak terkait akan sangat membantu memastikan bahwa teknologi flat bed dryer jagung dapat dimanfaatkan secara optimal, sehingga memberikan dampak nyata bagi peningkatan produktivitas dan kesejahteraan petani jagung di Desa Kluwih dalam jangka panjang.


Batang, 9 Agustus 2026