Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Tematik Tim 124 Universitas Diponegoro (UNDIP) menggelar kegiatan sosialisasi budidaya maggot Black Soldier Fly (BSF) di Kelurahan Meteseh, Kecamatan Tembalang, Kota Semarang, Jumat (24/7/2026). Program ini bertujuan meningkatkan pemahaman masyarakat mengenai pengelolaan sampah organik yang lebih ramah lingkungan sekaligus membuka peluang ekonomi melalui budidaya maggot.
Kegiatan tersebut merupakan bagian dari pengabdian kepada masyarakat yang berfokus pada penerapan konsep ekonomi sirkular, yaitu mengelola sumber daya agar tetap memiliki nilai guna dan tidak langsung menjadi limbah. Melalui pendekatan ini, sampah organik rumah tangga diperkenalkan sebagai bahan baku yang dapat dimanfaatkan menjadi pakan ternak alternatif dan pupuk organik.
Dorong Pengelolaan Sampah yang Lebih Produktif
Persoalan sampah rumah tangga masih menjadi tantangan di berbagai daerah, termasuk kawasan perkotaan. Sebagian besar sampah yang dihasilkan setiap hari merupakan sampah organik, seperti sisa makanan, sayuran, buah-buahan, dan dedaunan.
Apabila tidak dikelola dengan baik, sampah organik dapat menimbulkan bau, mengundang hama, serta meningkatkan volume sampah yang masuk ke tempat pembuangan akhir (TPA).
Melihat kondisi tersebut, mahasiswa KKN Tematik Tim 124 UNDIP berupaya memberikan solusi yang mudah diterapkan masyarakat melalui budidaya maggot Black Soldier Fly.
Mendapat Apresiasi dari Ketua PKK RW 06
Kegiatan sosialisasi dibuka oleh Ketua PKK RW 06 Kelurahan Meteseh, Lina Siswanti, yang menyampaikan apresiasi atas inisiatif mahasiswa KKN.
Menurutnya, masyarakat memerlukan edukasi praktis mengenai pengelolaan sampah agar limbah organik yang selama ini dianggap tidak bernilai dapat dimanfaatkan menjadi sesuatu yang bermanfaat.
Ia berharap ilmu yang diberikan dapat diterapkan secara berkelanjutan sehingga pengelolaan sampah tidak berhenti pada kegiatan sosialisasi saja.
Budidaya Maggot Dipilih karena Mudah Diterapkan
Ketua Tim KKN Tematik 124 UNDIP, Zahwa Sabilla Sulistyaningdyah, menjelaskan bahwa budidaya maggot dipilih karena relatif sederhana, tidak membutuhkan lahan yang luas, dan memiliki manfaat yang cukup besar bagi lingkungan maupun ekonomi masyarakat.
Menurutnya, maggot Black Soldier Fly mampu mengolah sampah organik menjadi biomassa yang kaya protein dan dapat dimanfaatkan sebagai pakan ternak alternatif.
Selain itu, hasil samping berupa kasgot juga memiliki manfaat sebagai pupuk organik.
Melalui kegiatan ini, mahasiswa berharap masyarakat dapat menerapkan budidaya maggot secara mandiri sehingga manfaatnya dapat dirasakan dalam jangka panjang.
Mengenal Maggot Black Soldier Fly
Black Soldier Fly (BSF) merupakan salah satu jenis lalat yang banyak dimanfaatkan dalam pengelolaan limbah organik.
Larva BSF atau yang lebih dikenal sebagai maggot memiliki kemampuan mengurai berbagai jenis sampah organik dalam waktu relatif singkat.
Berbeda dengan lalat rumah, lalat BSF dewasa umumnya tidak hinggap pada makanan manusia dan bukan dikenal sebagai penyebar penyakit.
Karena kemampuannya mengurai limbah, maggot kini banyak dibudidayakan untuk membantu mengurangi volume sampah organik sekaligus menghasilkan produk bernilai ekonomi.
Sampah Organik Menjadi Sumber Daya
Dalam sosialisasi tersebut, masyarakat diberikan pemahaman mengenai pentingnya memilah sampah organik dan anorganik sejak dari rumah.
Pemilahan menjadi langkah awal yang menentukan keberhasilan pengelolaan sampah.
Sampah organik yang sebelumnya hanya dibuang dapat dimanfaatkan sebagai pakan bagi maggot BSF, sementara sampah anorganik dapat dikelola melalui proses daur ulang sesuai jenisnya.
Dengan demikian, jumlah sampah yang berakhir di TPA dapat dikurangi.
Demonstrasi Budidaya Maggot
Selain penyampaian materi, mahasiswa juga memberikan demonstrasi secara langsung mengenai proses budidaya maggot.
Peserta diperkenalkan pada berbagai tahapan, mulai dari kandang budidaya, proses penetasan telur Black Soldier Fly, pemeliharaan larva, hingga proses pengeringan (drying) maggot.
Demonstrasi ini bertujuan memberikan gambaran nyata sehingga masyarakat lebih mudah memahami langkah-langkah budidaya apabila ingin mempraktikkannya di rumah.
Mengenal Kasgot
Dalam kegiatan tersebut, mahasiswa juga memperkenalkan kasgot, yaitu sisa hasil penguraian sampah organik oleh maggot.
Kasgot memiliki kandungan bahan organik yang dapat dimanfaatkan sebagai pupuk untuk tanaman.
Pemanfaatan kasgot menjadi salah satu contoh bagaimana seluruh proses budidaya maggot dapat menghasilkan manfaat tanpa menyisakan limbah yang terbuang.
Konsep ini sejalan dengan prinsip ekonomi sirkular yang mengoptimalkan pemanfaatan setiap sumber daya.
Potensi Sebagai Pakan Ternak
Maggot dikenal memiliki kandungan protein yang cukup tinggi sehingga banyak dimanfaatkan sebagai bahan pakan alternatif untuk berbagai jenis ternak maupun perikanan.
Meski demikian, penggunaannya tetap perlu disesuaikan dengan kebutuhan dan praktik budidaya yang baik.
Melalui pemanfaatan maggot, peternak berpotensi memperoleh alternatif sumber pakan yang berasal dari hasil pengolahan limbah organik.
Pembagian Tong Sampah Organik
Sebagai bentuk dukungan terhadap penerapan materi, Tim KKN Tematik 124 UNDIP turut membagikan tong sampah khusus organik kepada warga.
Keberadaan tong tersebut diharapkan dapat membantu masyarakat membiasakan pemilahan sampah sejak dari sumbernya.
Kebiasaan sederhana ini menjadi langkah penting dalam membangun sistem pengelolaan sampah yang lebih efektif di lingkungan permukiman.
Peluang Ekonomi bagi Masyarakat
Selain manfaat lingkungan, mahasiswa juga menjelaskan peluang ekonomi dari budidaya maggot.
Apabila dikelola secara konsisten, budidaya maggot dapat membuka berbagai peluang usaha, mulai dari penjualan maggot segar, maggot kering, bibit BSF, kasgot, hingga produk pakan fermentasi.
Bagi masyarakat, kegiatan tersebut berpotensi menjadi sumber pendapatan tambahan sekaligus mendukung pengelolaan sampah yang lebih berkelanjutan.
Antusiasme Warga
Kegiatan berlangsung dengan antusiasme tinggi dari masyarakat.
Peserta aktif mengajukan pertanyaan mengenai teknik budidaya, jenis sampah organik yang dapat digunakan, cara merawat maggot, hingga peluang usaha yang dapat dikembangkan dari hasil budidaya.
Interaksi tersebut menunjukkan meningkatnya minat masyarakat terhadap solusi pengelolaan sampah yang tidak hanya ramah lingkungan, tetapi juga memiliki nilai ekonomi.
Budidaya Maggot dan Konsep Ekonomi Sirkular
Ekonomi sirkular merupakan pendekatan yang mendorong pemanfaatan kembali sumber daya agar tidak langsung menjadi limbah.
Dalam konteks budidaya maggot, sampah organik diubah menjadi pakan larva, kemudian larva dimanfaatkan sebagai pakan ternak, sedangkan sisa penguraiannya menjadi pupuk organik.
Dengan cara ini, satu jenis limbah dapat menghasilkan berbagai produk yang masih memiliki manfaat.
Pendekatan tersebut dinilai mampu membantu mengurangi beban tempat pembuangan akhir sekaligus meningkatkan efisiensi pemanfaatan sumber daya.
Peran Mahasiswa dalam Pengabdian kepada Masyarakat
Program ini juga mencerminkan implementasi Tri Dharma Perguruan Tinggi, khususnya pada aspek pengabdian kepada masyarakat.
Melalui kegiatan KKN, mahasiswa tidak hanya menerapkan ilmu yang diperoleh selama perkuliahan, tetapi juga belajar berkolaborasi dengan masyarakat untuk mencari solusi atas persoalan yang dihadapi di lingkungan sekitar.
Pengalaman tersebut menjadi bekal penting dalam membangun kepedulian sosial sekaligus meningkatkan kemampuan mahasiswa dalam mengomunikasikan ilmu pengetahuan kepada masyarakat.
Harapan Program Berkelanjutan
Melalui kegiatan sosialisasi ini, mahasiswa KKN Tematik Tim 124 UNDIP berharap budidaya maggot tidak berhenti sebagai pengetahuan yang diperoleh selama pelatihan.
Masyarakat diharapkan mampu menerapkannya secara mandiri sehingga manfaat lingkungan maupun ekonomi dapat dirasakan dalam jangka panjang.
Dengan meningkatnya kesadaran untuk memilah sampah, memanfaatkan limbah organik, serta mengembangkan budidaya maggot secara berkelanjutan, Kelurahan Meteseh diharapkan dapat menjadi salah satu contoh penerapan pengelolaan sampah berbasis masyarakat.
Program ini menunjukkan bahwa sampah rumah tangga tidak selalu menjadi persoalan yang harus dibuang, tetapi dapat diubah menjadi sumber daya yang bernilai melalui inovasi sederhana. Melalui kolaborasi antara mahasiswa, pemerintah setempat, dan masyarakat, pengelolaan sampah organik berbasis budidaya maggot berpotensi mendukung lingkungan yang lebih bersih, memperkuat penerapan ekonomi sirkular, serta membuka peluang peningkatan kesejahteraan masyarakat secara berkelanjutan.