Semarang – Suasana tenang tampak menyelimuti Taman Tirto Agung, Banyumanik, Kota Semarang, saat puluhan anak muda duduk bersama menikmati waktu membaca buku. Kegiatan itu merupakan bagian dari agenda rutin Semarang Book Party, sebuah komunitas literasi yang mengajak masyarakat membaca dan berdiskusi di ruang terbuka.
Di balik lahirnya komunitas tersebut, ada sosok Muhamad Syafiq Yunensa, pemuda asal Brebes yang memiliki perjalanan hidup penuh lika-liku. Sebelum dikenal sebagai penulis sekaligus pegiat literasi, ia pernah menjalani kehidupan sebagai anak punk jalanan.
Syafiq mengaku masa kecil hingga remajanya diwarnai pengalaman pahit akibat perundungan. Saat masih tinggal di lingkungan rumah maupun ketika menempuh pendidikan di pondok pesantren, ia kerap menjadi sasaran bullying, baik secara verbal maupun fisik.
Ia menuturkan bahwa pengalaman tersebut membuatnya merasa tidak mendapatkan perlindungan yang memadai dari lingkungan sekolah. Kondisi itulah yang kemudian membentuk cara pandangnya terhadap kehidupan.
Musik punk mulai dikenalnya ketika masih duduk di bangku sekolah dasar. Lirik-lirik dari sejumlah grup musik punk seperti Bunga Hitam, Marjinal, dan Bunga Meriam dianggap mampu mewakili perasaan serta pengalaman yang ia alami sebagai korban perundungan.
Menurut Syafiq, musik punk bukan sekadar hiburan, tetapi menjadi sumber keberanian untuk melawan ketidakadilan yang selama ini diterimanya. Dari sanalah ia mulai berani membela diri dan mencari teman-teman yang memiliki pemikiran serupa.
Saat memasuki jenjang SMP, Syafiq bergabung dengan komunitas anak punk. Meski merasa menemukan solidaritas, ia mengakui masa itu juga membawanya terlibat dalam berbagai kenakalan remaja, termasuk tawuran.
Namun, ia memandang pengalaman tersebut sebagai proses pembelajaran. Baginya, setiap keputusan selalu memiliki konsekuensi yang harus dipertanggungjawabkan.
Perubahan besar dalam hidupnya justru terjadi ketika mulai menjalani kehidupan sebagai street punk. Di jalanan, Syafiq mengaku memperoleh banyak pelajaran yang tidak pernah didapatkan selama berada di ruang kelas.
Ia banyak berinteraksi dengan tukang becak, pedagang kaki lima, petugas kebersihan, hingga anak-anak yang bekerja demi membantu perekonomian keluarga. Dari pertemuan-pertemuan itu, ia belajar mengenai perjuangan hidup, kerja keras, dan arti tanggung jawab.
Pengalaman tersebut perlahan mengubah cara pandangnya terhadap budaya punk. Jika sebelumnya ia menganggap punk identik dengan perlawanan terhadap penindasan, seiring waktu ia memahami bahwa semangat tersebut juga mendorong seseorang untuk terus belajar dan memperkaya pengetahuan.
Kesadaran itu menjadi pintu masuknya ke dunia literasi. Menurut Syafiq, salah satu nilai yang ia pelajari dari kultur punk adalah pentingnya pengetahuan sebagai bekal untuk menyuarakan perubahan.
Perkenalannya dengan buku terjadi secara tidak terduga saat masih duduk di bangku SMP. Ketika membolos sekolah dan bersembunyi dari guru, ia menemukan sebuah novel di tempat pembuangan sampah. Momen sederhana itu menjadi awal tumbuhnya ketertarikan terhadap dunia membaca, meski kebiasaan tersebut baru benar-benar rutin dijalani ketika SMA.
Sejak saat itu, ia mulai membaca berbagai karya sastra hingga buku-buku sejarah. Minat membaca kemudian berkembang menjadi keinginan untuk menulis.
Dengan semangat Do It Yourself (DIY) yang lekat dengan kultur punk, Syafiq mulai menghasilkan karya-karya sastra. Novel pertamanya berjudul Berandal Bermoral terbit ketika ia masih menjadi mahasiswa baru. Setelah itu lahir novel Joni Melawan Arus dan Catatan Sang Berandal.
Ketiga karya tersebut menjadi titik penting dalam perjalanan akademiknya. Berkat rekam jejak sebagai penulis serta aktivitasnya di berbagai organisasi dan seminar, pihak Fakultas Tarbiyah UIN Walisongo Semarang memberikan kesempatan kepadanya untuk menjadikan novel Catatan Sang Berandal sebagai tugas akhir, sehingga ia dapat menyelesaikan pendidikan tanpa menyusun skripsi dalam bentuk konvensional.
Kini, melalui Semarang Book Party, Syafiq terus mengajak masyarakat, khususnya generasi muda, untuk kembali akrab dengan buku. Ia berharap semakin banyak orang merasakan manfaat membaca sebagaimana yang pernah mengubah arah hidupnya.
Bagi Syafiq, buku bukan sekadar kumpulan halaman berisi tulisan, melainkan jendela yang membawanya keluar dari masa-masa sulit dan membuka jalan menuju kehidupan yang lebih baik.
Sumber: Indoraya "Hidup di Jalanan Mengubah Segalanya, Begini Kisah Anak Punk Pendiri Semarang Book Party"