Lekat Tembalangan

Bima Wicaksono: Nahkoda Marinero Tobacco

Share this:

Tembakau telah menjadi sumber penghidupan bagi jutaan orang di berbagai belahan bumi. Tak terkecuali bagi Bima Wicaksono. Tembakau telah mendapatkan tempat spesial di hati pria kelahiran Jakarta, 29 Maret 1997 ini. Bima adalah pemilik “Marinero Tobacco”, sebuah toko tembakau yang cukup ternama di bilangan Tembalang dan sekitarnya. Bilamana Kanca Tembalang melintasi Jalan Gondang Raya, sempatkanlah menengok sisi timur jalan untuk mendapati lokasi toko tembakau milik Bima. Bagi Bima, tembakau ternyata tak hanya sekadar menjadi pemenuh kebutuhan hidup, melainkan telah menjadi penuntunnya menentukan jalan ninja, jalan hidupnya.

Lulusan Teknik Kapal dan Aktivis-Organisatoris Kampus

Bima tak pernah menyangka dirinya akan menggeluti dunia bisnis, apalagi membuka sebuah toko tembakau. Maklum saja, ditilik dari gelarnya sebagai lulusan D-3 Teknik Perkapalan Universitas Diponegoro, ia tidak melihat adanya kesinambungan dengan profesi yang tengah dilakoninya sekarang ini. Selain itu, meski ia sangat aktif dalam berorganisasi semasa kuliah, boleh dikatakan tak ada yang berhubungan langsung dengan bisnis tembakau.

Bima memang telah aktif berorganiasi semenjak menjadi mahasiswa baru. Beberapa di antaranya adalah menjadi Staff Sospol BEM FT 2016, Staff Kominfo Hima Teknik Kapal Undip 2016, Anggota Diponegoro Cavalry, Kepala Divisi Aksi Propaganda Opini Sospol BEM Undip 2017, Ketua LKMMP Sekolah Vokasi 2017, dan Founder Komunitas Letter U. Ketika ditanya mengapa dirinya begitu aktif berorganisasi, Bima menjawab, “Kepo, penasaran. Aku orangnya suka penasaran dan emang engga suka diem doang.” Tampaknya, alasan yang sama itu pula yang menjadi batu pijakan baginya kelak ketika ia memutuskan melompat ke dalam dunia tembakau.

Kepo adalah Pintu

Kisah antara Bima dan tembakau telah dimulai semenjak Bima masih mengenyam bangku SMP. Sewaktu itu, Bima tengah berkunjung ke kampung orang tuanya di Klaten. Ia lantas melihat Eyangnya tengah melinting tembakau. “Otomatis aku jadi penasaran, Eyangku itu lagi ngapain. Ternyata lagi ngelinting. Kepo aja, sih. Soalnya kan selama ini taunya rokok itu udah jadi. Ternyata bisa buat sendiri dengan cara ngelinting,” demikian kenangnya. Waktu berganti, kisah Bima dengan tembakau kemudian berlanjut ketika ia SMA. Ia ingat betul waktu itu ia tengah berkunjung ke rumah kerabat di Solo. Ia kemudian diajak oleh saudaranya untuk membeli tembakau di sebuah pasar di Solo. Rasa penasarannya mendorongnya untuk menyambut ajakan tersebut. Ia lantas membeli tembakau dalam jumlah cukup banyak sebagai stok untuk dibawa ke Jakarta. Bima juga kemudian belajar melinting tembakau dari saudara dan kakeknya.

Perlahan tapi pasti, Bima mulai menyukai tembakau. Ia menemukan bahwa melinting tembakau mendatangkan sensasi keasyikan tersendiri. Bima merasa bahwa ada unsur kebedaan dan kemandirian ketika ia melinting tembakau. “Asyik aja. Jadi kayak di saat teman-teman tongkrongan pakai rokok pabrik, aku ngelinting sendiri. Terus, proses ngelintingnya itu sendiri juga asyik buat aku, ngisi kegabutan,” katanya. Ia juga mulai menyukai rasa tembakau yang menurutnya lebih halus dan cocok baginya. “Tembakau pertamaku waktu itu kalau engga salah Virginia. Halus, cocok lah,” ungkap Bima.

Marinero Tobacco di Jl. Gondang Raya

Tahun berganti. Bima kemudian melanjutkan pendidikannya ke Universitas Diponegoro sebagai mahasiswa D3 Teknik Perkapalan. Pada masa kuliah inilah Bima akhirnya melabuhkan hatinya secara pasti ke tembakau. Dimulai dengan berkunjung ke beberapa toko tembakau ternama di Semarang seperti Mukti, intensitasnya semakin meningkat ketika ia diajak temannya main ke Jogja. “Kebetulan aku dapet tembakau yang aku suka, Virginia. Akhirnya beli banyak untuk stok. Eh, kok kelamaan mulai engga doyan rokok pabrik. Jadinya setiap stok tembakau mau habis, aku ke Jogja lagi. Biasanya aku beli di Toko Rejeki atau Wiwoho,” cerita Bima.

Dari Iseng Berbuah Manis

Kisah antara Bima dan tembakau memasuki jenjang berikutnya di tahun 2018. Setelah sebelumnya sempat membantu usaha tembakau milik temannya, Bima mulai kepikiran untuk mengulik lebih dalam soal tembakau. Mulailah Bima melakukan perjalanan ke banyak tempat penghasil tembakau, seperti Temanggung, Boyolali, dan Klaten. Seperti peribahasa satu batu dua burung, Bima ternyata juga memiliki hobi travelling sehingga ia semakin bersemangat melakoni kegiatannya tersebut.

Tak disangka, dari perjalanan tersebut Bima juga menemukan fakta bahwa Eyangnya ternyata adalah mantan petani tembakau. Semakin besarlah tekad Bima untuk menekuni khazanah pengetahuannya soal tembakau. “Pas bertemu dengan para petani itu aku bener-bener bengong. Karena benar-benar banyak banget hal yang aku temui. Aku baru  tahu kalau tembakau mengalami proses pengolahan yang sangat panjang sebelum bisa sampai ke tangan konsumen. Juga, ternyata tiap daerah penghasil tembakau memiliki karakter khasnya masing-masing. Pokoknya, tembakau ini dari luar kelihatan simple, tapi ternyata sangat kompleks,” tandasnya.

Medio 2019 menjadi waktu bagi embrio Marinero Tobacco terbentuk. Kala itu Bima mulai terpikir untuk memulai usaha tembakau kecil-kecilan. Ia mengaku bahwa alasannya hanya sebatas iseng belaka. Akhirnya, berbekal modal dua juta rupiah, Bima memberanikan diri untuk membeli sebuah etalase kaca dan sejumlah produk tembakau. Ia lantas bekerja sama dengan burjo di sebelah kosnya untuk mendapat lapak bagi usahanya. Tak dinyana, usaha tembakau milik Bima mendapat respon yang sangat positif. Padahal, Bima tak melakukan banyak promosi. “Kayaknya memang waktu itu peminatnya gede banget,” kata Bima. Usaha yang semula iseng belaka akhirnya berbuah manis. Bima mengaku hanya butuh waktu 15-20 hari saja untuk dapat membalikkan modal.

Ternyata tidak hanya uang yang datang, melainkan juga jodoh. Bima berkata bahwa pacarnya saat ini awalnya adalah salah satu pelanggannya. Semakin bulatlah tekad Bima untuk meneruskan usaha tembakau tersebut. Ia bersama pacarnya kemudian mulai merancang pengembangan skala usaha. Mereka membuat proposal yang kemudian ditawarkan kepada beberapa calon investor. Tidak butuh waktu lama bagi mereka untuk mendapatkan kepercayaan calon investor yang berkenan menyuntikkan dana segar bagi rencana pengembangan usaha mereka. Akhirnya, dengan berbekal dana sebesar delapan juta rupiah, pada Juni 2020 mereka menyewa sebuah garasi rumah yang disulap menjadi toko tembakau. Marinero Tobacco telah lahir sejak saat itu.

Kisah manis terus berlanjut. Pembeli terus berdatangan dan keuntungan semakin berlipat ganda. Bima pun mengaku kaget ketika mengetahui satu bulan awal usaha tersebut telah mendatangkan omzet sejumlah 22 juta rupiah. Melihat adanya prospek cemerlang, Bima bersama pacarnya dan seorang kawan lantas mulai berencana mengembangkan usaha ke tingkat yang lebih tinggi. Kembali mereka berembug untuk menyusun proposal dan model bisnis. Mereka lantas membuka sejumlah lot pendanaan dan diumumkan melalui media sosial. Tak disangka, hanya butuh dua hari saja agar lot itu terisi penuh oleh para investor yang berminat. Mereka bahkan sampai harus menambah lot agar dapat menampung permintaan para investor. Di akhir masa pendanaan, mereka berhasil menghimpun modal sebesar 45 juta rupiah.

Tapi, dunia tak selamanya terang. Gelap akhirnya mendatangi lini perjalanan Bima dalam berwirausaha. Ketika semua telah direncanakan dengan baik, suatu hal yang tak disangkanya datang. Ia dipaksa harus mencari lokasi baru dalam sepekan karena rumah tempat Bima menumpang usaha hendak dijual oleh pemiliknya. Kalang kabutlah Bima dan tim, karena hampir semua dana telah habis dibelanjakan produk tembakau. “Bener-bener dah waktu itu pusingnya bukan main. Di luar perhitungan banget. Tapi, ya udah, mau gimana lagi, kan. Los aja,” kata Bima.

Lantas, berbekal sejumlah uang yang tersisa dan sedikit keberuntungan, Bima mendapatkan sebuah kios kosong di Jl. Gondang Raya yang kebetulan terletak tak jauh dari tempatnya berjualan. Akhirnya, pada 5 November 2020, Bima dan rekan resmi bedol toko ke lokasi yang sekarang ini. Meski mengalami hal yang di luar perencanaan, Marinero Tobacco tetap mendapatkan hati di para pelanggannya. Ini dibuktikan dengan omzet yang relatif stabil di angka 20 juta per bulan.

Pelaut di Tengah Ganasnya Gelombang Pasar

Melihat latar belakang Bima sebagai lulusan Teknik Perkapalan dan pemilihan “Marinero” sebagai nama toko tembakaunya, tak butuh usaha keras untuk dapat menerka kesinambungan di antaranya. Betul, Bima sengaja memilih “Marinero” sebagai semacam bentuk penghormatan bagi dirinya sendiri sebagai lulusan Teknik Perkapalan. Namun, sejatinya terdapat alasan yang lebih dalam bak lautan samudera. Ia mengatakan bahwa abang lelakinya yang seorang pelaut adalah salah satu alasan utama di balik pemilihan nama tersebut.

“Kakak kebetulan memang kerja di bidang pelayaran. Aku banyak nyontoh abang yang jadi motivasi buat aku. Jadi, ya, aku ambil semangatnya dia. Marine ‘kan artinya pelaut. Jadi, seperti seorang pelaut, di mana kapal yang tidak punya rem, kadang koordinat kacau, cuaca berubah mendadak, itu semua kayak bisnis. Kita engga pernah tahu bisnis ini bakal ke arah mana, pasar akan terus bergejolak. Tapi, entah bagaimana caranya pelaut harus bisa mengarungi laut dan membawa penumpangnya selamat,” cerita Bima.

Terbentur Restu Orang Tua

Di balik keberhasilan Bima dalam merintis Marinero Tobacco, ternyata jalan yang dilaluinya tak melulu mulus tanpa halangan. Bagi Bima, aral terberat yang harus dihadapinya dalam melakoni bisnis ini adalah tidak mendapat restu dan dukungan dari keluarga, terkhusus orang tua. “Ya, jadi merasa terasingkan gitu,” katanya. Namun ia maklum, karena ia menyadari siapa orang tua yang tidak berkenan anaknya memiliki pekerjaan tetap dan hidup yang pasti serta mapan. Namun, ia bersikukuh dengan jalan yang telah dipilihnya. “Ketika sudah begitu, aku berusaha memberikan pembuktian. Bukan semata-mata membuktikan kalau ini menghasilkan uang, tapi juga menunjukkan ke orang-orang yang tidak percaya bahwa ini memang jalanku. Toh, apalagi ini tidak menyakiti dan merugikan orang lain,” kata Bima. Ia mengaku bahwa selama ini semua dijalaninya dengan pacarnya, yang mampu melihat adanya semangat luar biasa besar dalam diri Bima dalam menjalani pilihannya.

Bima tetapi juga mengakui bahwa pada akhirnya pembuktian terbesar pertama-tama bukan ditujukan bagi orang lain, melainkan bagi dirinya sendiri. “Bisa engga sih aku jadi businessman, di mana aku tidak punya ilmu bisnis apa-apa, kuliahnya teknik perkapalan,” tuturnya. Tapi, meskipun terkesan nekat, Bima mengatakan bahwa nekatnya selama ini adalah nekat terukur. Menurut Bima, bisnis itu pasti rugi dan resikonya adalah kaya. “Bisnis itu pasti rugi. Kamu rugi waktu, tenaga, sampai mental. Kalau engga siap, mati, pak. Kita harus siap, apalagi kalau tidak punya previlege apa-apa. Ya, kita sendiri akhirnya yang harus membentuk previlege itu,” jelasnya.

Tetap Teguh Bertahan Bak Batu Karang

Walau mengarungi lautan bisnis sama sekali bukan hal yang mudah, Bima tetap teguh bertahan layaknya batu karang di tengah terjangan ombak. Ia mencoba membangun dan menjaga kepercayaan terhadap dirinya sendiri. “Aku rasa setiap orang mampu untuk menentukan pilihan, walaupun banyak resiko dan dianggap salah. Jadi, ketika pun pilihan yang diambil salah, aku tidak akan pernah merasa terjerumuskan. Karena semua itu aku sendiri yang memutuskan, apapun resiko yang akan aku hadapi. Apalagi sedari awal tidak ada yang support. Jadi, apa lagi yang perlu disesali? Nothing to lose. Jalani aja,” kata Bima.

Meski sudah melakoni bisnis selama sekitar 2 tahun belakangan, Bima tetap menghadapi dilema dalam dirinya. Dilema terbesar yang saban ditemuinya adalah ketika ia merasa tingkat produktivitas dirinya belum terlalu maksimal. “Tapi, ketika aku udah pusing mikirin itu, ya tak bawa tidur, pak. Timbang aku pikirin, mending aku fokus kerja aja. Jadi, sah-sah aja untuk khawatir dan meragukan diri. Itu bagian dari proses. Nikmatin aja, engga perlu terburu-buru,” katanya.

Kecintaan Bima akan Tembakau

Selain kepercayaan diri, kecintaan Bima terhadap tembakau adalah suatu faktor utama mengapa Bima terus menjalani usaha ini. “Bahkan hari ini pun aku menganggap tembakau dan semua yang aku lakukan ini adalah hobi. Tembakau juga telah masuk ke sisi private bagi diriku. Jadi, kayak, ini semua tuh semacam caraku mengekspresikan hobiku,” ceritanya.

Bima memang memiliki pendapatnya tersendiri mengenai tembakau. “Tanaman ini sering dipandang sebagai tanaman yang negatif, sering membawa sakit. Menurutku, stigma itu telah menjadi dogma. Padahal, di balik itu semua, ada orang-orang yang terlibat dalam industri tembakau dan menaruh banyak harapan dalam tanaman ini. Mulai dari pembuat keranjang, buruh tani, petani, pengepul, pabrik, cukai, negara, semua itu terlibat. Tembakau adalah salah satu komoditas terbesar negara ini dan industri tembakau menjadi penyerap tenaga kerja. Terlebih di masa pandemi ini, ketika banyak sektor ekonomi yang ambruk, tembakau tetap sustain,” jelasnya.

Tidak hanya melulu soal material, tembakau juga dirasa Bima menjadi tempatnya belajar mengenai spiritualitas. Ia menjelaskan, “Kayak di Temanggung, para petani di sana akan melaksanakan ritual sebelum masa tanam dan sesudah masa panen. Itu menurutku udah masuk sosial-budayanya.” Bima lantas berharap kepada para kawan sesama pengusaha tembakau agar jangan melulu mencari profit, tapi juga mencoba lebih mengenalkan tembakau dan segudang kekayaan di dalamnya. “Jadi bukan hanya penjualan, tapi juga ada edukasi,” ujarnya.

Harapan dan Tujuan

Harapan Bima akan bisnis yang telah dibangun dan diupayak tetap bertahan dan berkembang. “Pengin berjilid, sih. Maksudnya, Marinero Tobacco buka cabang,” kata Bima. Selain itu, ia juga terus berusaha menjaga dan meningkatkan kualitas. Karena, menurut Bima, kualitas rasa tembakau adalah salah satu prioritas yang berusaha ia bangun bagi usahanya. Kritik pelanggan atas rasa tembakau adalah salah satu dasar pembelajaran dan motivasi baginya untuk mencapai harapan tersebut.

Di akhir perbincangan, Bima memiliki sedikit pesan bagi Kanca Tembalang sekalian. “Bahasa simple-nya, ya. Naruto engga bakal jadi hokage kalau dia tidak diasingkan atau berbeda. Dah, itu aja,” tandasnya.

Julius Ardiles Brahmantya
Cultural Anthroplogy UGM 2017 | Student, writers | AMDG

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *