quo vadis
Esai

QUO VADIS?

Share this:

Selesai. Akhirnya semua selesai. Klise, tapi semuanya terasa cepat berlalu. Ketika aku membalikkan punggung, tanpa tersadar empat tahun sudah kujalani. Tiga puluh enam purnama di Yogyakarta, dua belas purnama di Semarang. Dengan dinyatakannya diriku ini lulus Yudisium, maka dapatlah aku anggap satu babak hidupku telah ditutup. Kini, aku harus bersiap memasuki panggung baru. Bersiap memainkan babak baru dalam pentas hidupku.

Tapi, sial, sungguh teramat sial. Semuanya ternyata memang terlalu cepat berlalu, hingga-hingga aku tak lagi memiliki waktu. Waktu bagiku untuk duduk sejenak menepi sebelum kembali angkat senjata dan berjuang. Waktu bagiku untuk masuk ke dalam relung hati nurani dan bertanya: Quo Vadis?

Pertanyaan itu adalah pertanyaan yang sama yang konon dilontarkan oleh Petrus ketika ia hendak kabur dari Roma kepada Yesus sekitar dua milenium tahun lalu. Pertanyaan berbahasa Latin itu bila diterjemahkan ke dalam bahasa kita akan berbunyi: dikau mau ke mana? Sekilas, pertanyaan ini terdengar tak lebih sebagai pertanyaan ringan, bahkan terkesan basa-basi. Namun, bila saja kita berkenan memperhatikannya dengan lebih seksama, pertanyaan kecil tersebut rupanya meminta jawaban yang luar biasa besar. Jawaban atas tujuan.

Ya, aku belum sempat menanyakan kepada diri ini mau ke mana setelah menempuh empat tahun studi di universitas kebanggan bangsa dan negara. Semua ketidakpastian pandemi dan kabut tebal skripsi telah menyedot habis perhatian dan energiku. Selama satu tahun belakangan, satu-satunya tujuan yang berdiri kokoh di depan mataku hanya satu: cepat lulus supaya tidak perlu lagi bayar UKT. Maklum, kondisi finansial sedang tidak sehat di tengah situasi macam ini. Bertahan hidup dan meringankan beban otomatis jadi opsi utama dan pertama.

Namun, kini aku menyadari bahwasannya aku telah melewatkan satu kesempatan paling krusial. Kesempatan yang seharusnya aku sediakan, aku jalani, sebelum aku memulai babak baru ini. Kesempatan untuk mengetuk pintu hati dan bertanya: mau ke mana setelah ini? Apa tujuanmu sekarang?

Mungkin Sudara terheran dalam benak: apakah arti penting dari tujuan? Bila benar demikian, perkenankan diri yang hina ini memberi jawab: sangat dan teramat penting melebihi semua jawaban atas semua pertanyaan. Aih, betapa beraninya jawaban itu. Tapi, aku pasti memiliki alasan dan dasar yang menjadi latar belakang atasnya.

Menurut hematku, tujuan adalah fondasi bagi identitas. Boleh jadi Anda sekalian mengerutkan dahi membaca kalimat barusan. Wajar saja, selama hidup, kita diberi tahu dan memberi tahu bila identitas kita dideterminasi oleh latar belakang, lingkungan, sejarah, hingga molekul kimia yang saling menjalin bernama DNA. Ini berarti identitas adalah sesuatu yang sudah terkonstruksi dengan paten, bahkan sebelum kita keluar dari rahim ibu. Dengan demikian, identitas jua adalah sesuatu yang paten pula. Tak bisa diubah, tak dapat kau gugat.

https://id.wikipedia.org/wiki/Alfred_Adler

Berpuluh tahun lamanya aku mengamini konsep identitas yang demikian. Hingga suatu saat, seorang sahabat mengenalkanku pada sosok yang sama sekali asing bagiku. Sosok itu ialah Alfred Adler. Ia sudah mati sedari 1937, tapi pemikirannya tak lekang oleh waktu. Ialah yang berbisik pelan dekat telingaku: bahwa identitas adalah milikmu.

Tercenganglah diriku. Pemikiran macam apa ini? Bagaimana mungkin identitas adalah milikku? Karena, bila demikian, berarti aku dapat mengubah identitasku? Aku dapat menggugat identitasku? Aku dapat menentukan identitasku sesuai dengan yang aku mau? Mustahil! TIDAK MUNGKIN!

Alfred tersenyum melihatku kalut dan takut. Ia sudah terlalu biasa menerima respon semacam ini. Ketika aku menatapnya marah—menuntut penjelasan—ia menepuk pundakku halus seraya berkata: Biarlah waktu yang akan memberimu penjelasan. Lantas, ia menghilang. Pergi secepat datangnya dalam lintasan hidupku.

Tiba-tiba saja aku telah terlempar ke sebuah kursi di ruangan gelap. Langkah kaki terdengar perlahan menghampiriku. Siluet tubuhnya tak asing bagiku, tapi aku kesulitan mengenalinya. Ia hanya membisu sesampainya di sampingku. Lantas, ia membalikkan punggungnya dan mengoperasikan semacam alat pemutar film. Sepersekian detik kemudian, sebuah putaran film telah tayang di hadapanku.

Film itu mulanya tak ubahnya seperti film era 30-an. Hitam-putih dan bisu. Film apakah ini gerangan, hatiku bertanya. Setelah kuamati, aku mulai terbelalak. Film itu mulai berwarna dengan warna-warni yang aku kenal. Bersuara dengan suara-suara yang aku kenal. Film itu adalah kilasan hidupku.

Adegan pertama film itu berlatar di sebuah Burjo di bilangan Tembalang. Diriku tampak berada di sebuah pojok, tampak serius mengerjakan sesuatu di hadapan laptop. Jemariku menari di atas papan ketik. Kepalaku sesekali mengangguk mengikuti irama musik dari headset yang aku kenakan. Tak jauh dari situ, tampak segerombolan anak muda asyik bermain poker. Tertawa dan berseru-seru. Tapi, aku tampak tak terpengaruh sedikit pun. Tetap bergeming, layaknya batu cadas di tengah aliran sungai deras.

Sosok di sampingku lalu berkata, “Tahukah dirimu akan adegan ini?”

Sembari terus melhat tayangan, aku mengangguk.

“Tentu saja! Bagaimana aku bisa lupa saat-saat aku mengerjakan skripsi. Pengalaman di mana aku menghabiskan 9-12 jam setiap hari selama dua minggu penuh hanya untuk duduk dan berjuang menyelesaikan skripsiku.”

Aku menghabisi jawabanku dengan senyuman. Sosok itu kemudian lanjut bertanya.

“Lalu, kira-kira apakah yang kamu lakukan itu adalah hal biasa bagimu?”

Senyumku meredup. Aku terhenyak.

“Tidak. Sebelum ini, aku adalah pribadi yang malas dan suka menunda-nunda pekerjaan. Tidak pernah fokus. Tidak pernah selesai mengerjakan sesuatu.”

“Lantas, hal apakah yang dapat membuatmu menjadi pribadi yang baru, yang bahkan kau sendiri tidak pernah membayangkan dapat melakukan hal-hal itu?”

Terdiam seribu bahasa diri ini. Bukan karena tak tahu jawab. Malah, aku tahu persis apa jawabannya. Aku akhirnya berkata:

“Tujuanku. Tujuanku yang membuatku dapat menjadi pribadi yang baru itu. Tujuan untuk bisa secepat mungkin menyelesaikan skripsi. Tujuan untuk sesegera mungkin lulus. Tujuan supaya aku tak perlu lagi melihat raut sedih ibuku setiap tiba waktunya aku harus membayar uang kuliah.”

Meskipun ruangan itu gelap, aku dapat merasakan sosok di sebelahku tersenyum mendengar jawabanku itu. 

Adegan film kemudian berganti. Kali ini berlatar ruang kelas 9 SMP ku dahulu. Waktu itu sedang ada doa rosario bersama. Tapi, anak-anak di dalam kelas tampak tak peduli dengan kegiatan itu. Sebagian terlihat mengobrol sambil berbisik. Beberapa tampak asyik membaca komik. Satu dua anak bahkan tertidur dengan pulas. Tapi, ada satu anak yang berdoa rosario dengan sungguh-sungguh. Anak itu adalah aku.

Sosok itu kembali bertanya, “Tahukah kamu akan adegan ini?”

Aku kali ini menjawab dengan perlahan, “Ingat.”

“Apakah yang kamu lakukan itu adalah hal biasa bagimu?”

“Tidak,” aku menggeleng pelan, “bagaimana bisa hal biasa? Berdoa harian saja aku jarang, bahkan sebelum makan pun aku sering lupa berdoa.”

“Lantas, hal apa yang membuatmu dapat menjadi bocah saleh yang dapat berdoa rosario dengan khusyuk di saat teman-temanmu yang lain tidak peduli dengannya?”

Aku memejamkan mataku erat, mencoba mengingat dan mengorek kembali momen di tahun 2011-2012 itu. Ketika aku membuka mata, aku berkata

“Tujuanku. Aku berusaha berdoa rosario dengan khusyuk karena aku bertujuan masuk Seminari[1] kala itu. Aku berusaha membangun citra diri bahwa aku adalah anak yang taat berdoa dan layak masuk ke Seminari.”

Seminari Mertoyudan

Sosok itu terus mengejarku dengan pertanyaan selanjutnya.

“Tapi, mengapa kamu masuk Seminari bila akhirnya memutuskan untuk keluar? Apakah tujuanmu adalah memang ingin menjadi seorang pastor?”

Aku menggeleng pelan. Pedih dan sedih menyeruak. Aku menahan diri untuk tidak menangis. Jawabku:

“Tidak. Aku ternyata tidak bernah bertujuan untuk menjadi pastor. Tujuanku yang sejati—yang bahkan baru kuketahui 5 tahun setelahnya—adalah aku ingin minggat dari rumah. Aku capek dengan suasana rumah yang suram dan mencekam. Aku lelah dengan permasalahan kedua orang tuaku. Aku ingin pergi, jauh. Mencari tujuan di mana aku dapat memulai hidup yang sama sekali baru.”

Aku ternyata tak kuasa menahan emosi yang membuncah. Terjatuhlah aku di atas kedua lututku. Menutup muka, mata basah, air mata mengalir. Aku menangis.

Ruang gelap mendadak menjadi terang. Putih. Mataku silau. Sosok itu kemudian mengulurkan tangannya, mengajakku untuk bangkit. Kusambut dan kuberdiri berhadapan dengannya. Sosok itu ternyata adalah diriku sendiri, tersenyum.  

Sewaktu Petrus hendak kabur dari Roma karena ketakutan atas persekusi dan penyaliban terhadap orang Kristen, dikisahkan Yesus menampakkan diri kepadanya. Petrus lantas bertanya kepada Yesus: Quo Vadis? Yesus menjawab, “Aku hendak ke Roma untuk disalib lagi.” Petrus sekonyong-konyong merasa malu luar biasa. Malu dan takut lalu berganti dengan keberanian. Ia lantas berputar arah, kembali ke Roma dan meneruskan pelayanannya, hingga akhirnya mati disalib terbalik.

Pertanyaan akan identitas selalu menjadi pertanyaan pokok dalam lembaran sejarah manusia. Setiap kali mentari terbit, manusia digelantungi dengan pertanyaan: Siapa dirimu? Bagiku sekarang, aku selalu dapat menjadi siapa pun yang aku mau. Aku selalu mungkin memiliki identitas yang baru sama sekali setiap harinya. Semua itu ditentukan oleh tujuanku. Maka, identitas diri ini kemudian akan menjadi bebas dan merdeka, dapat aku ubah, aku pilih, sesuai dengan apa yang hendak aku tuju.

Dunia sekarang sedang menghadapi krisis yang belum ada presedensinya. Kita berada di tengah dunia yang terjebak dalam pandemi terbesar dalam sejarah modern, kasus korupsi terbejat namun juga terkonyol penanganannya, hingga krisis iklim yang menyebabkan kebakaran serta gagal panen di berbagai belahan bumi. Dunia sedang rusak, dan manusia tengah berada di ujuk tanduk kemusnahan. Namun, semua belum terlambat. Masih ada ruang—meskipun sangat sempit—untuk mengambil pilihan tepat. Kini, saya rasa, adalah tepat dan bijak bagi kita setiap umat manusia untuk bertanya kepada diri masing-masing: Quo vadis, homo?[2]

Ad Maiorem Dei Gloriam.


[1] Sekolah calon pastor Katolik

[2] Mau ke mana dirimu, manusia?

Julius Ardiles Brahmantya
Cultural Anthroplogy UGM 2017 | Student, writers | AMDG

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *