Uncategorized

Pandangan Mereka Tentang LGBT Disekitar Kita

Share this:

Semarang (29/06/2021) – Komunitas lesbian, gay, biseksual, dan transgender, atau acap kali dikenal dengan LGBT, merupakan istilah yang semenjak tahun 1990-an digunakan untuk menggantikan frasa “komunitas gay”,  karena istilah tersebut lebih mewakili kelompok-kelompok yang telah disebutkan sebelumnya. Dengan maraknya komunitas tersebut di media online maupun offline di sekitar kita, khususnya dalam lingkup kampus, artikel ini akan membahas tentang pendapat khalayak mengenai hal tersebut. Pantas atau tidakkah apabila komunitas tersebut secara terang-terangan muncul dan berkembang di masyarakat sekitar? Simak terus artikel ini, ya!

LGBT Menurut Mahasiswa Dewasa Ini

Banyak dari mahasiswa di berbagai universitas yang mengikuti dan bahkan menjadi bagian dari kaum atau komunitas LGBT itu sendiri. Hal ini tidak menutup kemungkinan apabila komunitas tersebut semakin menunjukkan eksistensinya di kalangan masyarakat sekitar kita. Berikut pendapat dari mahasiswa dan mahasiswi psikologi salah satu universitas yang ada di Semarang.

“Semakin marak dan semakin berani tampil membuat komunitas ini secara terang-terangan menunjukkan bahwa keberadaan mereka di masyarakat ingin dilihat dan diperhatikan. Menurut aku,  hal semacam ini harus ditindaklanjuti, karena dalam kehidupan bermasyarakat tidak sedikit dari kita yang menganggap bahwa komunitas tersebut tidak baik apabila terus dibiarkan. Akan menjadi pengaruh buruk bagi generasi penerus bangsa,” ujar Saskia.

Saskia sangat menyayangkan apabila komunitas ini terus tumbuh dan berkembang seiring berjalannya waktu. Menurutnya, masyarakat masih menganggap sebelah mata tentang keberadaan komunitas ini.

“Jujur, aku salah satu dari mereka yang tidak setuju dengan keberadaan komunitas ini di masyarakat, khususnya di lingkup kampus. Karena hal tersebut merupakan contoh yang tidak baik dan tidak pantas untuk di dukung,” tambah Saskia.

Lain halnya dengan Indra, yang berpendapat bahwa, “Kalau dari aku pribadi sih, ada tidaknya komunitas ini di lingkup kampus tidak berpengaruh dengan kehidupan sosial di dalamnya. Akan sama saja berteman dengan mereka yang LGBT dan teman yang normal lainnya.”

Menurut Indra, berteman dengan mereka yang memiliki gangguan psikososial ini akan sama saja dengan mereka yang normal pada umumnya. Orientasi seksual yang agak ‘unik’ tersebut tidak akan terlihat tanpa kitaapabila kita tidak mengetahui kehidupan pribadi mereka secara mendalam. Diperlukan pendekatan yang lebih intens terhadap yang diduga kaum LGBT untuk memastikan kebenaran orientasi seksual yang mereka miliki.

“Aku setuju-setuju saja ada komunitas seperti itu di kampus maupun masyarakat luas. Karena keberadaan mereka memang ada, dan tidak sedikit. Asal dalam komunitas tersebut tidak menimbulkan hal-hal yang bersifat mengganggu dan rusuh. Jika masih aman terkendali biarkan saja mereka dengan kaum dan komunitasnya,” tambah Indra.

Adanya pendapat dari mahasiswa dan mahasiswi psikologi tentang komunitas LGBT ini membuat banyak opini yang timbul. Akan tetapi, apabila kita dapat mencerna dengan baik dan menerima setiap pendapat dari kedua mahasiswa tersebut secara bijak, maka tidak menutup kemungkinan untuk kita bisa mulai menerima keberadaan kaum atau komunitas LGBT di kehidupan sosial masyarakat. Karena bagaimanapun, kita sebagai makhluk sosial perlu merangkul mereka agar dapat menjalani kehidupan sosial yang normal sebagaimana mestinya dan tidak dianggap aneh oleh masyarakat sekitar.

Editor: Hieronimus Emilianus Evangelista

Ilustrator: Annisa Putri Pramesti

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *