Illustrasi skripsi ambyar
Fitur

Skripsi Ambyar Itu Wajar! Ini Dia Sebabnya

Share this:

Salah satu pertanyaan yang paling ngga pingin kamu denger ketika menjadi mahasiswa tua adalah “gimana skripsi?” Buat banyak orang, isu skripsi sudah sebelah dua belas sensitifnya dengan isu agama, mental health, politik, atau status jomblo. Tidak semua orang dengan gembira menceritakan proses penggarapan skripsinya. Kanca Tembalang harus hati-hati dan sadar situasi dan kondisi lawan bicara ketika ingin ngobrolin soal skripsi.

Tapi, kenapa sih skripsi bisa jadi hal yang kayaknya sangat menakutkan begitu? Ini karena begitu banyaknya tantangan yang harus dihadapi ketika mengerjakan sebuah skripsi. Tak jarang, karena salah strategi atau kurang persiapan, skripsi seorang mahasiswa menjadi ambyar! Hidup seakan tak ada lagi arti, semangat pun terasa padam dan pupus.

But, it’s okay to not be okay! Skripsi ambyar itu wajar. Kamu tidak sendirian. Saya adalah salah satunya.

Hanya saja, alih-alih fokus menyelesaikan transkrip wawancara atau melengkapi kerangka teori, saya malah mencoba mengobservasi dan mengidentifikasi sejumlah variabel (cielah bahasanya skripsi banget) yang berpotensi mengambyarkan skripsi. Berikut ini hasilnya!

Topik Skripsi

Semua dimulai ketika menjelang semester akhir. Ketika jumlah SKS sudah mulai menyentuh batas minimal kelulusan (biasanya 144) dan hampir semua mata kuliah selesai diambil, otak seorang mahasiswa secara alam bawah sadar mulai dipenuhi dengan pertanyaan: aku mau buat skripsi apa?

Sialnya, tak setiap orang paham betul harus membuat apa untuk skripsinya. Ini bisa disebabkan berbagai hal. Mulai dari kurang memahami teori disiplin ilmunya, minim refrensi, dan lain sebagainya. Akhirnya, bisa saja seseorang memilih topik tanpa pertimbangan mendalam.

Topik menjadi sangat krusial karena ini menjadi simpang penentu jalan hidup skripsimu. Bila kamu salah langkah di tahap ini, kemungkinan besar kamu akan menghadapi banyak kesulitan di tahap-tahap berikutnya. Banyak orang bilang, ambillah topik yang kamu suka tapi juga memiliki bobot tertentu, agar tidak habis dibantai saat seminar proposal. Jadi, bijak-bijaklah ketika memilih topik!

Riset

Habis seminar proposal terbitlah riset. Yup, riset atau penelitian adalah salah satu agenda wajib dalam membuat sebuah skripsi. Sebagai sebuah karya ilmiah, sudah menjadi kodratnya tulisan kita harus berlandaskan data-data yang valid. Tak bisa kita memenuhi skripsi kita hanya dengan asumsi dan opini semata.

Tapi, riset tak sekadar soal kalian menyebar kuesionar Google Form dan meminta teman-teman terdekat mengisinya. Bukan juga semata-mata tentang mengamati hasil uji laboraturium dan mencatatnya. Riset berarti kamu harus siap bekerja keras untuk membaca berlembar-lembar buku teori, menentukan metode penelitian, mengeksekusi pelaksanaan, dan terlebih mengolah data.

Karena skripsi saya menggunakan metode penelitian kualitatif, salah satu tantangan terbesar dari riset adalah men-transkrip isi wawancara terhadap sejumlah informan. Transkrip ini suatu hal yang sangat menjengahkan. Perlu kesabaran tingkat biksu untuk mendengarkan pembicaraan selama berjam-jam dan menuliskannya ulang. Bila isi wawancara hanya satu atau dua jam, mungkin tidak terlalu berat. Sekarang, bayangkan bila wawancara yang kalian lakukan rata-rata berdurasi sampai empat jam! Bisa pengar kepala ini akibatnya.

Tidak berhenti sampai situ, Kanca Tembalang sudah pasti harus mengolah data itu. Mulai dari memilah dan memilih, mengklasifikasikannya, menganalisis, dan masih banyak lainnya sampai diperoleh intisari dari data kalian. Sabar-sabar aja deh pokoknya kalau lagi ada di tahap ini.

Penulisan

Bila dasar teori sudah mencukupi, data sudah komplit dan terolah, kini saatnya kamu memasuki tahap yang buat sebagian kalangan terasa sangat berat. Penulisan skripsi memang harus diakui bukan perkara mudah. Ada saja seribu satu halang rintang yang harus dilewati supaya kalian dapat menulis dengan lancar.

Sering saya mendengar dari kakak tingkat saya, bahwa ia telah menulis beberapa lembar, tapi kemudian dihapusnya semua karena dirasa kurang baik. Ada pula yang berjam-jam terpaku menatap layar laptop tapi otak tak kunjung jua mengeluarkan ide tulisan. Seorang teman mengatakan bahwa bila ia harus menyiapkan kondisi terbaik untuk menulis, mulai dari bikin segelas kopi, membersihkan kamar, mandi, dan lain sebagainya. Tau-tau, dia malah kecapekan dan tertidur.

Fokus adalah prasyarat utama ketika menulis. Tapi, kita semua tahu, tak semudah itu mendapatkan fokus di sisi kita. Seperti yang sudah dicontohkan, terlalu banyak distraksi yang mengintai di sekeliling. Bila sudah demikian, hanya satu jawabannya: niat dan tekad sekuat baja!

Revisi

Ini dia tahapan yang paling mencekap dalam balada membuat skripsi: revisi dari dosbing (dosen pembimbing). Selalu ada saja cerita yang mampir di telinga terkait hate-love relationship antara mahasiswa dan dosbing saat revisian. Mulai dari dosen yang ghosting alias tak bisa dikontak, hingga tragedi pencoretan satu bab penuh karena dirasa kurang memuaskan. Keambyaran skripsi lantas semakin memanifestasi dalam sanubari bila sudah begini.

Memang tidak semua dosbing seperti itu. Banyak pula yang baik dan care dengan mahasiswa bimbingannya. Revisi pun tidak akan menjadi momok bila demikian. Masalah revisi dengan begitu memang menjadi masalah komunikasi. Seberapa jauh masing-masing pihak mau memahami satu sama lain dan bekerja sama untuk mencapai tujuan bersama. Ya, beda tipis dengan relasi orang pacaran, tapi memang begitulah adanya!

Sidang

Sebelum menjalani sidang akhir jaman, seorang mahasiswa setidaknya akan mengalami simulasinya di dalam sidang skripsi. Perasaan grogi, cemas, takut, gelisah, dan semua perasaan tidak enak lainnya biasa tercampur aduk dalam momen satu ini.

Bagaimana tidak, kamu akan duduk di hadapan (biasanya) tiga dosen penguji. Di situlah Kanca Tembalang harus mempertanggung jawabkan isi skripsi kita. Bila berhasil, maka pintu wisuda sudah tinggal selangkah lagi. Tapi, bila gagal, siap-siaplah menghadapi guncangan emosi akibat seluruh isi skripsimu dipertanyakan kebenarannya oleh para dosen penguji.

Karenanya, perlu persiapan yang sungguh matang sebelum seseorang menjalani sidang akhir ini. Tak pernah ada ruginya latihan berulang-kali, mempelajari satu per satu teori, dan memantapkan hasil analisis serta kesimpulan. Toh, sidang ini hanya perlu kamu jalani satu kali seumur hidup. Jangan sampai menyesal karena kurang persiapan!

Skripsi ambyar itu wajar. Tapi, ingatlah selalu kata mutiara dari mantan menteri pendidikan kita:

“Skripsi yang baik adalah skripsi yang selesai”

-Anies Baswedan

Bagi kamu para pejuang skripsi di luar sana, mau seambyar apapun skripsimu, yakinlah bahwa pasti ada cara untuk menyelesaikan. Saya yakin, kamu pasti bisa! Cheers!

Julius Ardiles Brahmantya
Cultural Anthroplogy UGM 2017 | Student, writers | AMDG

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *