start-up main actor
Fitur

Belajar Strategi Bisnis dari Drakor Start-Up

Share this:

“Kamu tim Nam Do-San atau Han Ji-Pyeong?”

Pertanyaan itu tampak sering muncul di timeline Twitter saya beberapa minggu yang lalu. Tidak lain dan tidak bukan karena booming drama Korea (drakor) Start-Up di kalangan pecinta drakor Indonesia. Dari awal mula tayang, Start-Up memang telah mencuri perhatian karena menyuguhkan jalan cerita yang berbeda dari biasanya.

Bila sebelumnya kita dibuat termehek-mehek oleh kisah cinta dilematis penuh intrik politik di Crash Landing on You, kini Start-Up mencoba memberikan cerita perjuangan para pendiri perusahaan rintisan menghadapi kerasnya pasar. Memang, kisah cinta segitiga antara Nam Do-San, Seo Dal-Mi, dan Han Ji-Pyeong juga menjadi bumbu utama film seri ini. Namun, nilai lebih dari Start-Up menurut saya terletak di penggambaran proses pendirian usaha rintisan yang kini juga tengah diminati oleh sebagian besar anak muda.

Berdasarkan hasil menonton sampai begadang observasi saya terhadap semua episode Start-Up dari awal sampai akhir, saya belajar beberapa strategi bisnis dalam merintis suatu usaha. Ini dia selengkapnya!

1. Produk Bagus Engga Cukup

Nam Do-San dkk. pernah sakit hati luar biasa gara-gara kritik pedas Han Ji-Pyeong. Pasalnya, Ji-Pyeong merendahkan Samsan Tech karena mereka tidak memiliki business plan yang jelas. Padahal, produk ciptaan mereka benar-benar revolusioner, bahkan sampai menang kontes Artificial Intelligence tingkat dunia.

Tapi, kritik Ji-Pyeong memang ada benarnya. Apa guna produk berkualitas bintang lima jika tidak tahu cara menjualnya. Salah-salah, produk kita bisa dicuri konsepnya oleh orang lain yang tahu strategi penjualannya. Saya jadi teringat salah satu perkataan salah satu teman saya, yaitu persoalan bisnis yang terutama bukan masalah produk yang ingin dijual, tapi bagaimana kamu bisa menjual produk itu!

2. SDM Berkualitas Itu Kunci

Ketika Nam Do-San dan tim berhasil tembus tes Residensi Sand Box, ia memutuskan untuk mencari seorang Chief Executive Officer yang lebih handal daripada dirinya. Sempat dilema, akhirnya Do-San memilih Seo Dal-Mi. Pilihannya ini kelak terbukti tepat, karena Dal-Mi berhasil membawa Samsan Tech menjuarai Demo Day. Bukannya tidak mungkin ceritanya akan berbeda apabila Do-San tetap bersikeras menjadi CEO bagi perusahaan yang didirikannya.

Sumber daya manusia (SDM) adalah kunci sebuah usaha, apapun itu, untuk bisa sukses. Tidak hanya melulu soal kualitas pribadi, tapi juga bagaimana setiap individu dapat bekerja sama dengan excellence sebagai sebuah tim. Positioning tiap individu sesuai dengan kemampuanya yang paling baik juga patut menjadi perhatian utama. Tidak heran, banyak perusahaan bersedia menggelontorkan banyak uang hanya untuk bisa mendapatkan calon SDM unggulan bagi mereka.

3. Without Vision, You Will Go Nowhere.

Ingat ketika Seo Dal-Mi tiba-tiba saja ingin menciptakan produk smart car berbasis teknologi AI? Semua timnya mendadak ragu dengan gagasan itu karena dirasa terlalu sulit untuk diterapkan. Tapi, ternyata visi itulah yang kelak membawa Dal-Mi dan Chongmyeong Co. menjadi perusahaan skala besar.

Visi dapat diibaratkan menjadi mercusuar bagi perusahaan dalam mengarungi ganasnya lautan dunia bisnis. Tanpa visi, sebuah perusahaan sangat rawan terombang-ambing dan tidak mempunyai arah yang jelas. Bukannya dapat berlabuh di anjungan kesuksesan, perusahaan bisa-bisa menabrak batuan karang yang keras karena salah arah. Visi yang baik, kalau menurut saya, adalah visi yang berlandaskan alasan yang sangat kuat dan mendasar. Contohnya ya visi membuat smart car, karena Dal-Mi dkk. ingin mengurangi tingkat kecelakaan lalu lintas dan membantu para difabel bepergian dengan mudah.

4. Bila Tidak Tahu, Carilah Mentor!

Perkataan Han Ji-Pyeong kadang memang sering bikin hati ngilu dan teriris-iris saking pedasnya. Tapi, memang seperti itulah peran seorang mentor. Di tahapan awal, pendiri ataupun pemimpin perusahaan sangat kekurangan pengalaman dan pengetahuan. Ini sebabnya Do-San tetap ingin meminta Ji-Pyeong menjadi mentor bagi perusahannya di akhir cerita.

Alasannya masuk akal. Ji-Pyeong dapat memberikan kritik dan masukan yang objektif dan jujur. Ia tak segan ngonek-ngonekke kalau salah, dan tulus memberi pujian apabila memang baik. Mentor dapat menjadi batu acuan pendiri/pemimpin perusahaan dalam bagaimana mengoperasikan perusahaan. Meskipun perkataan mentor tidak senantiasa benar, tapi setidaknya sangat-sangat mengurangi resiko kegagalan perusahaan karena salah langkah.

Itu dulu ya, Kanca Tembalang, tentang strategi bisnis yang dapat dipelajari dari Start-Up. Buat kamu, apa pelajaran yang paling berkesan yang bisa kamu ambil dari kisah Do-San, Dal-Mi, dan Ji-Pyeong dkk? Cheers!

Julius Ardiles Brahmantya
Cultural Anthroplogy UGM 2017 | Student, writers | AMDG

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *