Tembalangan

Kisah Kangen Mahasiswa Tembalang

Share this:

Berlakunya kuliah daring mengakibatkan separuh penduduk Tembalang — yakni mahasiswa — memutuskan untuk mudik ke kampung halaman masing-masing. Selama berbulan-bulan, Tembalang ditinggalkan dan hanya menyisakan sunyi. Jalanan yang lengang hingga dagangan yang sering tersisa di gerobak penjual menjelang senja menjadi pemandangan lumrah. Tak lagi terdengar tawa riang dan keluh kesah mahasiswa di sudut-sudut Tembalang. Tak ada lagi antrian mengular di tempat percetakan, fotokopi juga pom bensin.  Ah, kangen Tembalang!

Tembalang memang telah menjadi tempat spesial yang menyimpan banyak cerita dan lembaran sejarah bagi beberapa individu. Enam mahasiswa lantas bercerita kepada Infotembalang tentang hal yang paling dikangenin dari Tembalang selama mereka harus pergi darinya. Berikut selengkapnya. 

Uni (20), Universitas Diponegoro

Sudah sekitar 2 bulanan aku tidak balik ke Tembalang. Apalagi jarak antara rumahku ke Tembalang cukup jauh, yaitu tujuh jam perjalanan menggunakan bis. Sejauh ini, belum ada rencana untuk kembali ke Tembalang dalam waktu dekat. Toh, barang-barang sudah aku masukkan ke tas sehingga sudah ngerasa cukup aman. Terus, aku juga masih cukup was-was untuk naik bis di tengah situasi pandemi seperti sekarang ini. Tapi, semisal ada teman yang mengajak ke Tembalang naik motor atau pakai kendaraan pribadi, masih ada keinginan untukku ke sana.

Aku sudah berada di Tembalang selama kurang lebih dua tahun. Tapi, pandemi memaksaku terpisah jauh dengan Tembalang. Pastinya banyak hal yang aku kangenin, terutama kos. Karena di kos banyak teman yang satu daerah, jadi hampir setiap hari masak atau pergi bareng-bareng. Sekarang, kalau kangen kita cuma bisa berbincang di chat atau video call, kadang juga main ke rumah teman yang masih cukup dekat jaraknya. Tapi, mau bagaimanapun, itu semua ngga bisa menggantikan keasikan di Tembalang. Aku kangen dengan keramaian dan kemudahan akses ke berbagai tempat di Tembalang.

Vira (20), Universitas Diponegoro

Sudah lima bulanan aku tidak balik ke Tembalang. Banyak hal yang tentu meninggalkan kesan di benak. Aku harap, semoga saja dengan izin orang tua, bulan November atau Desember awal setelah magang selesai aku bisa balik ke Tembalang. Tempat pertama yang aku sambangi pasti kos-an. Kangen wifi-nya, kangen jajanan, kangen belanja di Shopee juga karena ongkos kirimnya lebih murah. Beda banget sama rumahku di Solok, Sumatera Barat. Otomatis mahal banget ongkir-nya, bikin mau nangis. Selain itu kangen juga naik Bus Rapid Transit (BRT), nge-mall, dan nonton sendirian. Kangen itu semua lagi-lagi karena di tempatku juga tidak ada mall dan bioskop.

FISIP (Fakultas Ilmu Sosial dan Politik) adalah tempat yang aku kangenin banget, apalagi gedung D-nya. Pernah juga tiba-tiba kangen macet di bunderan (Undip). Selama di rumah, aku justru baru sadar, ternyata suasana Tembalang di malam hari itu enak banget. Dulu aku biasa saja sama hal-hal seperti itu. Tapi, setelah sekian lama terpisah dari Tembalang, barulah tersadar bahwa aku kurang mengapresiasi Tembalang selama beberapa tahun tinggal di sana. Bagiku, Tembalang adalah tempat tinggal kedua. Aku juga sama sekali tidak merasa asing dengan Tembalang, seolah-olah aku sudah jadi bagian dari sana.

Wijiyanti (21), Politeknik Negeri Semarang

Kurang lebih sudah 5 bulan aku nggak main ke Tembalang, meskipun bulan Juli lalu sempat mampir buat ambil barang-barang di kos. Pasti ada rasa kangennya, tapi ada bersyukurnya juga. Aku kangen suasana Tembalang, kangen kumpul ngopi sama teman-teman, kangen joget Zumba juga di Perumda. Kangen penyetan mas kece yang di Baskoro dan kangen main sama anak anak kos-an. Mulai kangen ke kampus juga sih sebenarnya, kumpul rapat Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) di sekitar kampus, di posko UKM atau di luar kampus seperti di Parjo. Oh ya, sama kangen beli per-skincare-an di Tembalang. Soalnya, kalo beli di sekitar rumah tidak terlalu lengkap. Jadi biasanya malah belanja online. Menurutku, Tembalang adalah tempat yang dingin, penuh dengan kenangan, baik manis ataupun pahit.

Saras (21), Politeknik Kesehatan Kemenkes Semarang

Terakhir aku ke Tembalang itu pas awal pandemi. Sekitar tanggal 17 Maret kalau tidak salah. Setelah itu belum pernah balik ke sana lagi. Jelas muncul rasa kangen, terutama keinginan untuk kembali kuliah seperti biasa lagi. Hal yang paling dikangenin itu jajanannya. Biasanya kalau sama teman-teman beli jajan bareng di depan Poltekkes, Polines, dan di daerah Banjarsari. Sayangnya, aku belum ada rencana balik ke Tembalang. Sebenarnya ada teman minta aku ke sana bersama dia di Oktober, tapi aku pun belum tanya ke orang tua. Jadi, belum ada kepastian. Secara umum, aku kangen dengan suasana Tembalang yang terlihat ramai walaupun agak panas. Jajanannya yang melimpah juga bikin kangen banget.

Alfina (20), Politeknik Kesehatan Kemenkes Semarang

Sejak Maret 2020, cuma balik ke Tembalang dua kali, sekitar awal Mei untuk persiapan KKN di rumah. Kedua, di akhir Mei untuk mencabut kos dan pindah ke rumah. Kemungkinan ada rencana kembali kalau sudah kuliah offline lagi. Selama di rumah kangen banget sama Tembalang terutama suasananya, teman-teman dan kulinernya. Kalau aku biasanya tempat menghabiskan waktu di Burjo Oishi Taman Tirto, Burketsu dan Geprek Lumer. Aku tipikal yang cenderung suka ke kulinernya dibanding jalan-jalan, sebab waktu kuliahnya tidak menentu. Ke sana pun kalau sama teman-teman karena aku jarang pakai motor sewaktu kuliah, kecuali saat Praktek Kerja Lapangan (PKL) yang hanya di tempat dekat.

Kalau kulineran, biasanya ketika jam istirahat dan bertepatan dengan program kerja organisasi. Dulu pas kuliah lebih sering ke Tembalang daripada rumah karena libur Poltekkes itu singkat. Jadi jarang main-main kecuali nonton sama belanja bulanan karena memang waktunya terbatas untuk kuliah dan  kegiatan kampus. Bisa dibilang Tembalang tempat untuk mencari ilmu, banyak teman untuk menambah pengalaman, serta tempat kedua setelah rumah.

Mia (21), Politeknik Kesehatan Kemenkes Semarang

Belum terlalu lama sih sebenarnya aku pisah dengan Tembalang. Kira-kira sudah 2 bulanan ini aku tidak ke Tembalang. Tapi, beberapa waktu lalu pun sempat balik ke sana karena ada keperluan. Kalau mau diingat, banyak sekali tempat favorit di Tembalang, salah satunya adalah burjo. Selain itu, aku sebenarnya suka semua sudut di Tembalang. Biasanya juga ke berbagai tempat itu bersama teman-teman organisasi. Momen-momen seperti itulah yang sebenarnya paling dikangenin. Selain itu, aku juga kangen makanan, jajanan, tempat kumpul dan suasana Tembalang yang ramai. Makanan yang paling dikangenin itu boci juara, ayam bali, ayam sambal matahnya burjo, dan beef potato yang ada di daerah Mulawarman. Tembalang benar-benar tempat yang ramai, asik, banyak cerita, banyak kenangan.

Itulah beberapa curahan hati mereka yang terpisah dari Tembalang. Tak bisa dipungkiri, Tembalang kini sudah menjadi separuh nafas dari sekian banyak mahasiswa berbagai perguruan tinggi yang ada di Tembalang. Partikel-partikel kenangan yang perlahan menguap bersama waktu kini hadir kembali di cerita ini. Semoga, secarik tulisan ini bisa mewakili perasaan dan mengobati kangen kalian ya, Kanca Tembalang!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *