Tembalangan

Dari Mereka yang Bertahan di Tengah Pandemi: Warung Burjo di Tembalang

Share this:

Terhitung sudah hampir lima bulan semenjak diberlakukannya kuliah online oleh kampus-kampus di Indonesia, tidak terkecuali yang berada di daerah Tembalang. Keramaian yang kerap ditemui di tiap sudut Tembalang, perlahan berubah menjadi hening seiring adanya pandemi. Satu per satu pelaku usaha telah menutup gerainya masing-masing, termasuk warung andalan mahasiswa, yaitu burjo atau warung bubur kacang hijau.

Warung yang identik ramah dengan kantong mahasiswa ini banyak yang memilih tutup lantaran banyaknya mahasiswa yang memilih untuk pulang ke kampung halaman masing-masing. Keadaan seperti itu tentu membuat kondisi Tembalang tidak seramai biasanya.

Kilah Bertahan di Tengah Krisis

Pandemi telah mengubah peruntungan warung burjo, sebagaimana virus ini berdampak terhadap lini usaha lain yang mengandalkan keramaian massa. Empat bulan lebih mereka menghadapi masa sulit ini. Dimulai sejak adanya anjuran agar warga tetap di rumah dan pemberlakuan kebijakan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PKM) oleh Pemerintah Kota Semarang. Pengunjung mulai berguguran, begitu pula dengan pemasukan.

Meski demikian, ada beberapa dari mereka yang memilih untuk bertahan ketika yang lainnya memilih menyerah. Dudi, pemilik Burjo PK, lebih memilih untuk tetap buka sejak awal pandemi. Baginya, meski pemasukan burjo miliknya turun, namun ia merasa iba kepada mahasiswa yang tidak pulang ke kampung halaman.

“Lumayan lah. Meskipun [pemasukan] nggak seberapa, yang penting masih ada pelanggan. Kasian mahasiswa yang nggak bisa pulang. Seenggaknya mereka masih punya tempat buat makan atau ngopi,” tutur Dudi.

Hal senada juga diungkapkan oleh Audi, yang bekerja sebagai pegawai di Burjo Temon, Bulusan. Meskipun saat ini Tembalang terbilang sepi, namun ia masih belum sepenuhnya kehilangan harapan di tengah pandemi ini. Walau burjo tempat ia bekerja saat ini sudah tidak banyak disambangi mahasiswa, namun kini justru lebih didominasi oleh warga sekitar.

“Sebelum [pandemi] corona banyak [mahasiswa] yang kesini buat sekadar nongkrong. Sekarang udah jarang. Tapi, masih ada beberapa [mahasiswa] yang nggak bisa pulang sering mampir kesini. Meskipun nggak banyak, tapi bersyukur aja. Ternyata masih didatengin,” ujarnya.

Jika Dudi dan Audi bertahan karena alasan mahasiswa, lain halnya dengan Jajang. Pemilik Burjo Remaja ini merasa jauh lebih baik jika dirinya tetap berada di Semarang. Meskipun secara pemasukan mengalami penuruan, namun itu jauh lebih ketimbang ia menjadi pengangguran di Kuningan. “Lebih baik di sini (Semarang), kalo balik ke Kuningan mah nggak ada duit. Satu sisi sedih (omset turun), tapi di sisi lain juga bersyukur tetap ada pemasukan dari sini (burjo),” ungkap Jajang.

Kegelisahan dan Harapan

Sudah tidak asing lagi jika burjo selalu dikaitkan dengan mahasiswa. Berbagai aktivitas di luar kampus acap kali terjadi di tempat ini. Burjo tidak hanya menjadi warung makan, lebih dari itu, Burjo telah menjelma sebagai ruang interaksi sosial.

Berangkat dari hal itulah, mereka, yang bergelut dalam bisnis ini memiliki kegelisahan yang sama: keramai pengunjung. Ketiganya sepakat bahwa sepinya Tembalang saat ini justru melahirkan ingatan akan keramaian yang kerap terjadi di burjo mereka. Obrolan ringan, canda tawa, hingga tingkah konyol para pelanggan, menjadi hal yang paling dirindukan.

Bagaimanapun, ketidakpastian pandemi ini telah menuntun mereka kepada sebuah harap, yang tampaknya juga kita angankan: semoga keadaan cepat membaik.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *