Tembalangan

Tugu Masa, Cara Mahasiswa Undip Sampaikan Aspirasi Biaya UKT

Share this:

Berada di tengah pandemi membuat segala sesuatunya menjadi tak terduga, termasuk di bidang pendidikan. Kegiatan yang dilakukan serba online sedikit banyak merubah kebiasaan seseorang. Belum lagi, capaian pembelajaran dan biaya pendidikan yang tidak menentu semenjak kuliah online berlangsung. Tak heran hal ini menuai terjadinya benturan antara mahasiswa dengan pihak birokrasi kampus. Salah satunya terjadi kepada Universitas Diponegoro (Undip), yang belakangan ini menjadi viral karena aksi mahasiswanya. Hal yang sama pun terjadi dengan Universitas Gadjah Mada, Universitas Brawijaya, Universitas Islam Negeri Banten, Universitas Halu Oleo, dan masih banyak lagi.

Mengenal Uang Kuliah Tunggal (UKT)

Dikatakan sebagai penyebab utama, UKT menjadi topik pembicaraan di berbagai kalangan pembaca. UKT sendiri merupakan sebuah sistem pembayaran yang berlaku untuk seluruh Perguruan Tinggi Negeri (PTN) di Indonesia. Ketentuan ini diberlakukan berdasarkan Permendikbud Nomor 55 Tahun 2013 pasal 1 ayat 3. Pasal tersebut menyatakan bahwa setiap mahasiswa hanya membayar satu komponen saja tiap semester.

Selain UKT, juga ada Biaya Kuliah Tunggal (BKT) yang merupakan biaya keseluruhan operasional per mahasiswa setiap semester pada program studi masing-masing. Mengingat biaya ini terbilang cukup mahal, pemerintah memberikan bantuan kepada setiap PTN, yaitu Bantuan Operasional Perguruan Tinggi Negeri (BOPTN). Sehingga dapat dikatakan biaya UKT merupakan hasil pengurangan dari BKT dan BOPTN. Jadi begitu, Kanca Tembalang.

Ada Apa dengan UKT?

Turut merasakan dampak pandemi di dunia pendidikan, Kemendikbud telah mengatur mekanisme penyesuaian UKT. Hal ini dituangkan melalui Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Permendikbud) Nomor 25 Tahun 2020. Yang antara lain berisi tentang Standar Satuan Biaya Opersional Pendidikan Tinggi pada Perguruan Tinggi Negeri. Peraturan ini bertujuan untuk memberikan keringanan UKT bagi mahasiswa yang terdampak pandemi.

Menanggapi peraturan tersebut, Undip melakukan penambahan golongan UKT dan Sumbangan Institusi Program (SPI) bagi mahasiswa baru angkatan 2020. Keputusan ini tercantum dalam SK Rektor Nomor 149/UN7.P/HK/2020 tentang Penetapan Besaran UKT dan Sumbangan Institusi Program Sarjana/ Diploma Undip. Kebijakan ini sontak mendapat tanggapan pro dan kontra dari berbagai pihak. Dari sinilah awal pergerakan mahasiswa untuk menuntut pergerakan UKT di kala pandemi.

Kronologi Aksi

Menindaklanjuti hal tersebut, beberapa pergerakan mulai mencuat ke permukaan. Salah satunya gerakan dari mahasiswa Undip yang menyuarakan penolakan perihal penambahan golongan UKT dan kenaikan SPI. Aksi mahasiswa Undip ini mulai terlihat dari kampanye online yang dilakukan melalui postingan instagram dengan memakai tagar #UndipKokJahatSih dan #UndipNaikUKTLagi.

Postingan ini diunggah pada Selasa (21/4) dan diikuti oleh mahasiswa Undip lainnya yang sependapat. Hingga pada Kamis (23/4) diadakan audiensi secara online untuk mengkaji lebih lanjut keputusan tersebut. Audiensi dihadiri oleh perwakilan dari pihak mahasiswa bersama Rektor serta Dekan dari 12 Fakultas.

Seiring berjalannya waktu, aksi kembali mencuat dengan membawa tuntutan baru yakni penurunan UKT bagi mahasiswa secara keseluruhan. Aksi yang bertajuk “Aksi-aksi Asik” ini dilakukan pada Kamis (16/7) lalu di Bundaran Undip. Sebelumnya aksi damai ini akan dilakukan di Taman Inspirasi yang berlokasi di halaman depan Gedung Rektorat. Namun terhalang oleh penjagaan dari pihak keamanan.

Tak berhenti sampai disitu, aksi terus berlanjut hingga Senin (27/7) kembali bertempat di Bundaran Undip. Dengan membawa tuntutan yang sama, peserta aksi terus menggaungkan keluh kesah yang dialami selama pandemi.

Tujuh Gugatan Mahasiswa

Mahasiswa yang tergabung dalam Aliansi Suara Undip (ASU) terus mengajukan tuntutan aksi yang disebut TUGU MASA (Tujuh Gugatan Mahasiswa) Undip. Berikut isinya:

  1. Memberikan potongan biaya pendidikan (UKT) Semester Gasal TA 2020/2021 kepada seluruh mahasiswa Universitas Diponegoro.
  2. Memberikan transparansi mengenai seluruh kebijakan yang dikeluarkan Universitas Diponegoro.
  3. Memastikan capaian pembelajaran selama pandemi.
  4. Membuka kembali pembebasan UKT untuk Mahasiswa Tingkat Akhir secara keseluruhan.
  5. Menjamin terpenuhinya fasilitas penunjang untuk tenaga pendidik, staf, dan karyawan selama pandemi.
  6. Membuat kebijakan baru bagi mahasiswa cuti di lingkungan Undip sesuai Permendikbud No. 25/2020.
  7. Cabut dan batalkan kebijakan tentang kenaikan biaya pendidikan (UKT dan SPI) Mahasiswa Baru Undip 2020.

Melihat ketujuh tuntutan di atas, kita dapat melihat bahwa segala aspek terutama pendidikan membutuhkan perhatian khusus selama pandemi. Aksi yang dilakukan mahasiswa Undip pun tentunya mengundang pro dan kontra dari berbagai pihak. Kalau menurut kamu gimana nih, Kanca Tembalang?

Catatan:

Redaksi telah menyunting ulang artikel ini pada tanggal 3 Agustus 2020 sebagai tanggapan atas hak jawab dan hak koreksi dari pihak-pihak yang merasa dirugikan dengan isi artikel sebelumnya. Pihak Infotembalang.com menyampaikan permohonan maaf atas ketidaknyamanan yang ditimbulkan.

Referensi:

2 Replies to “Tugu Masa, Cara Mahasiswa Undip Sampaikan Aspirasi Biaya UKT

  1. Menurut informasi yg disampaikan ke calon mhsw baru, jika tdk mengirim berkas penetapan UKT, maka secara otomatis UKTnya ditetapkan pada kategori tertinggi.
    Saya orangtua calon mhsw, mengirimkan berkas penetapan UKT, tapi hasilnya ditetapkan juga pada kategori tertinggi. Lalu ada fasilitas banding, suruh ngirim berkas penetapan UKT lagi, ehh, turun. Tapi turunnya TIDAK SIGNIFIKAN dengan kirim ulang berkas.

    1. Terimakasih atas sharing pengalamannya bapak. Semoga segala sesuatunya segera diberikan kemudahan kepada bapak sekeluarga. Aamiin

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *