Tembalangan

Ratoh Jaroe Undip 17, Apa Bedanya dengan Tari Saman?

Share this:

Jika mendengar Kota Aceh, apa yang terlintas di bayangan kalian? Makanan khas, tokoh-tokoh pahlawan, aturan islam, atau kesenianya? Banyak hal spesial yang di miliki oleh Kota Aceh, salah satunya adalah kesenian tarinya. Salah satu yang sering kita dengar adalah Tari Saman. Siapa yang tidak tahu tentang kesenian tari asal Aceh yang sangat masyhur di seluruh nusantara. Atau diantara kalian ada yang pernah atau sekarang menjadi Penari Saman?

Berbicara terkait Tari Saman, ternyata kesenian ini juga tumbuh subur di kampus-kampus di area Tembalang, khususnya pada unit kegiatan mahasiswa (UKM). Namun masih banyak yang salah kaprah dalam menamai Tari Saman dan Tari Ratoh Jaroe. Hal spesifik yang membedakan antara Tari Saman dan Tari Ratoeh Jaroe terletak pada sisi penari, syair dan musik pengiring. Jika Tari Saman hanya dimainkan oleh penari laki-laki dalam jumlah ganjil, Tari Ratoh Jaroe dimainkan oleh penari perempuan dalam jumlah genap. Perbedaan lainnya, Tari Saman tidak menggunakan alat musik, Tari Ratoh Jaroe diiringi alat musik rapa’i. Dilihat dari tampilan juga ada beberapa perbedaan. Tari Ratoh Jaroe bisa menampilkan aneka pakaian penari untuk menambah keindahan gerak. Sedangkan tari Saman konsisten pada keindahan gerak yang maskulin, dengan seragam tari yang saman.

Bahkan di Universitas Diponegoro  (Undip) sebagian besar UKM menggunakan nama Tari Saman padahal konsepnya merupakan Tari Ratoh Jaroe. Hanya ada satu UKM Undip yang bernama Ratoh Jaroe,  lebih diikenal sebagai Ratoh Jaroe Undip 17 (RJU17).  Gerakanya yang indah, kostumnya yang mewah, dan kekompakan penari menjadikan RJU17 banyak digemari oleh khalayak. Tidak hanya mahasiswa, tetapi juga masyarakat pada umumnya

Sebuah fakta menunjukan, bahwa Tari Saman sebenarnya memiliki personil laki-laki tanpa diiringi tabuhan musik. Lantas, jika personilnya teridiri dari kaum perempuan dan diiringi tabuhan musik, apa namanya? Benar, namanya Ratoh Jaroe. Dilihat dari namanya cukup asing untuk dikenal khalayak umum, karena kita sudah terbiasa menyebutnya dengan Tari Saman

Jemari yang Menari dalam Tari Ratoh Jaroe

RJU17 didirikan pada tahun 2013, saat itu masih bernama Tari Saman.  Pada tahun 2018, namanya berubah menjadi RJU karena mengingat konsep tarinya yang merupakan kategori Ratoh Jaroe. Secara umum Ratoh berarti menari dan ‘Jaroe’ ialah jari-jemari, sehingga jika digabungkan menjadi jari-jemari yang menari. Dibelakang kata RJU terdapat angka 17, menunjukan jumlah anggota ketika pentas berusaha menghadirkan 17 penari dan tanda semangat kemerdekaan 17 Agustus.

Hal yang membedakan antara RJU17 dengan grup Ratoh Jaroe Undip yang lain adalah mereka memiliki gerakan khusus yang selalu diajarkan kepada anggota baru. Variasi gerakan yang mereka miliki beranekaragam, namun tetap mempertahankan gerakan basic sebagai identitas tarian Ratoh Jaroe. Para pemain yang terlibat cukup profesional karena melalui rangkaian open recuitmen yang ketat. Sehingga tidak salah RJU17 sering diundang pentas dalam acara-acara mahasiswa maupun masyarakat umum.

Walaupun tergolong baru di Undip, RJU senantiasa menjaga kualitas penampilan dan melebarkan sayapnya untuk dapat dikenal oleh masyarakat umum. UKM yang masih berstatus Badan Semi Otonom (BSO) di Undip ini memiliki beberapa prestasi yang cukup membanggakan. Mereka pernah menjadi finalis dalam Malam Apresiasi Seni dan Anugerah Terbaik Festival Ratoh Jaroe 2019, yang diselenggarakan oleh Pemerintah Provinsi Aceh, bahkan pernah menjadi perwakilan dari Indonesia untuk tampil di acara Indonesia Cultural Night, yang diadakan di Universitas Sains Malaysia (USM) Penang.

Seperti seni pertunjukan yang lain, pandemi sangat berpengaruh terhadap pementasan dan keberjalanan RJU17. Jadwal pentas yang sudah direncanakan tidak terlaksana. Namun mereka tetap beradaptasi dengan melalukan latihan secara daring. Gerakanya yang cukup rumit dikhawatirkan para anggota RJU17 menjadi lupa dan tidak luwes terhadap gerakan tari RJU. Mereka berharap supaya RJU17 dapat menjadi UKM resmi, lebih dikenal oleh khalayak umum, dan sering pentas.

Tari Ratoh Jaroe merupakan wujud kekayaan kesenian Bangsa Indonesia. Kesenian daerah yang sudah mendunia ini memang patut untuk dilestarikan. Gerakanya yang rumit dan butuh konsentrasi tinggi pantas untuk diapresiasi. Mari terus mencintai dan melestarikan kesenian lokal.

Sumber Referensi :

https://aceh.tribunnews.com/2019/10/27/apa-perbedaan-ratoh-jaroe-dan-saman-gayo-ini-penjelasan-kadis-budpar-aceh?page=3

https://www.suaramerdeka.com/news/baca/204970/tim-tari-sma-nasima-berprestasi-di-festival-ratoh-jaroe-nasional

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *