Acara Hits Fitur

Kiat Sukses Jurnalisme Online di Era Digital

Share this:

Menjadi jurnalis tampaknya memang penuh tantangan dan menyenangkan. Kanca Tembalang yang tergabung ke dalam Lembaga Pers Mahasiswa (LPM) di kampus atau mulai mencoba menjadi jurnalis independen mungkin sependapat bahwa jurnalisme adalah bidang yang seru untuk diselami. Di tengah era digital dewasa ini, kita mengenal adanya jurnalisme online. Mungkin tidak berbeda jauh dengan jurnalisme konvensional, tapi tetap ada beberapa aspek yang harus diperhatikan oleh para jurnalis digital muda seperti kita ini.

Melalui Weekend Upgrade #5 yang diselenggarakan Minggu (28/6) lalu, Infotembalang mendapatkan kiat-kiat sukses menjadi jurnalis digital yang cerdas dan beretika. Pemateri pada kesempatan kali itu adalah Abdul Arif, seorang jurnalis profesional yang telah lama berkirprah di bidang jurnalistik, dan Triyas Agus, pakar Search Engine Optimization (SEO) dan web developer kawakan. Yuk, langsung simak saja selengkapnya berikut ini.

Etika Jurnalisme Online

Mas Abdul Arif sebagai pemateri pertama menyampaikan bahwa jurnalis memiliki tanggung jawab yang luar biasa. Maka dari itu, seorang jurnalis, baik offline atau online, tidak bisa menulis sembarangan. Ada batasan-batasan yang harus dijaga. Batasan-batasan tersebut di dalam dunia jurnalisme dikenal sebagai kode etik jurnalistik.

Anggota senior Asosiasi Jurnalis Independen (AJI) Indonesia ini menyampaikan bahwa jurnalis memegang tanggung jawab untuk menyampaikan kebenaran kepada publik. Seorang jurnalis harus berintegritas dan bebas dari kepentingan dalam menulis suatu berita. Jurnalis juga tak boleh terjebak pada opini pribadi. “Usahakan agar mendeskripsikan suatu fakta secara langsung, tak perlu diberi imbuhan “tampaknya, sepertinya, dsb.,” tegas Mas Abdul Arif.

Selain itu, jurnalis juga harus peka terhadap topik berita yang dibawanya. “Kalau berita itu adalah tragedi bencana atau kekerasan seksual, poisisikan diri kita sebagai korban. Maka kalian akan tahu bagaimana harus menulis berita tersebut,” ungkap Mas Abdul Arif. Hal ini supaya berita yang kita bawa tidak menjadi bumerang bagi pihak-pihak tertentu.

Akurat dan Berimbang

Di luar itu, Mas Abdul Arif menyampaikan bahwa media siber atau online tetap harus mengikuti aturan yang ditetapkan dalam Undang-Undang Pers dan standar perusahaan pers yang telah diterapkan oleh Dewan Pers. Ia lantas menekankan pentingnya unsur verifikasi dalam penulisan berita. Hal ini karena jurnalisme memiliki prinsip akurasi dan keberimbangan yang wajib dipenuhi.

Kemudian, jurnalis media digital Ayosemarang.com ini mengutarakan bahwa redaksi wajib memuat ralat, koreksi, dan hak jawab. Ketiga unsur tersebut wajib diberikan dalam setiap berita yang ditulis apabila terdapat kesalahan yang dibuat dalam penulisan berita. Hal ini semakin mudah dilakukan oleh jurnalis digital karena tinggal menyunting ulang artikel yang telah di-post.

Search Engine Optimization (SEO)

Mungkin beberapa Kanca Tembalang masih asing dengan istilah SEO. Mas Triyas, yang telah 10 tahun bergelut dengan dunia web developing, menjelaskan bahwa SEO adalah strategi pemasaran yang berfokus pada peningkatan visibilitas di situs mesin pencari (Google, Yahoo, Bing, dll.).

Lebih lanjut, tujuan strategi SEO adalah menempatkan situs kita di peringkat paling atas di halaman hasil situs pencari saat orang mengetikkan keywords yang relevan dengan isi situs kita. Semakin bagus rate SEO sebuah post, maka semakin besar pula kemungkinan artikel tersebut muncul sebagai hasil teratas di mesin pencarian.

Ada beberapa unsur yang harus kita pelajari untuk memahami bagaimana SEO bekerja. Beberapa di antaranya adalah Search Engine, Crawling, Indexing, Ranking, dan keyword.

Lalu, apa kaitannya dengan jurnalisme online? Tentu saja karena SEO sangat membantu artikel kita dapat meraih lebih banyak pembaca atau sering disebut traffic. Mas Abdul Arif mengaku bahwa kekuatan sebuah media digital adalah traffic. Semakin banyak traffic, semakin lama pula media digital tersebut dapat bertahan.

Demikian beberapa ilmu-ilmu yang dapat dipetik dari Weekend Upgrade #5. Kelihatan kan, bahwa untuk menjadi jurnalis di era digital kita tetap harus berpegang pada etika jurnalistik. Selain itu, kita juga dituntut untuk dapat membuka diri terhadap knowledge dunia digital yang mendukung kerja jurnalisme. Cheers!

Julius Ardiles Brahmantya
Cultural Anthroplogy UGM 2017 | Student, writers | AMDG

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *