virtual photoshoot
Fitur

Virtual Photoshoot: Menembus Batas dengan Keterbatasan

Share this:

Jagat fotografi tengah diramaikan dengan kemunculan tren virtual photoshoot. Enggak sedikit Smartizen masih bertanya-tanya, memang bagaimana sih sebenarnya virtual photshoot itu? Barangkali ada yang sudah paham sama konsepnya tapi rasanya kayak enggak masuk aja di akal.

Motret virtual, gampangnya adalah sesi pemotretan tanpa ada pertemuan fisik antara fotografer dengan peraga yang difoto, tren yang tercipta karena dampak pembatasan aktivitas di ruang publik akibat pandemi COVID-19. Interaksi keduanya cukup dibantu oleh platform video call, apapun jenisnya, misal pengguna Apple OS lebih akrab menggunakan FaceTime. Seperti dilansir CNN Indonesia, tren pemotretan virtual ini pertama kali dipopulerkan di Instagram oleh Alessio Albi, fotografer berbasis di Italia, yang kemudian disusul dengan pemotretan lainnya oleh Vogue Italia.

Motret virtual yang mulai digemari dan dipamerkan, bukan cuman teman-teman fotografer tapi juga publik yang sekadar doyan motret, dengan gear atau peralatan apapun menciptakan gambar objek yang agak kabur atau refleksi dari objek itu sendiri di hasil fotonya, atau kadang dalam bahasa awamnya ngeblur-fading-aesthetic-ala-ala. Gambar objek yang kabur kerap bisa ditumpuk dengan gambar objek lainnya yang berbeda ke dalam 1 frame, teknik fotografi ini disebut double exposure atau multi exposure jika melibatkan lebih dari 2 objek untuk menimbulkan kesan dinamis dan dramatis. Style foto ini yang salah satunya menjadikan aktivitas virtual photoshoot mendadak kondang dan digandrungi anak-anak muda.

Fyi Smartizen, dalam praktik fotografi, bokeh dan blur itu beda. Istilah bokeh adalah slang untuk kedalaman ruang (depth of field), pembiasan visual disengaja untuk kepentingan estetika, sementara gambar objek yang kabur atau ngeblur seringnya adalah kejadian insidental akibat miss focus fotografer saat memotret, tapi entah kenapa foto-foto yang miss focus itu tetap ‘enak’ setelah dilihat-lihat, dan malah menimbulkan pengalaman rasa tertentu ketika ketidaksengajaan dan keteledoran menciptakan gambar yang memuaskan tanpa dinyana dan bikin ketagihan. Terminologi keduanya jadi bias bagi kalangan awam, keduanya lantas menjadi manuver artistik kedalaman ruang yang banyak dimainkan dalam jagat wedding photography dan portrait photography.

Di Indonesia, motret virtual dipopulerkan oleh sejumlah aktris, selebriti, dan public figure, seperti Dian Sastro, Raisa, dan Rachel Vennya. Aktor dan fotografer Dion Wiyoko juga sempat mencoba tren motret virtual ini menggunakan teknik multi exposure dan mengunggah hasilnya di akun Instagramnya. Di sisi lain, sejumlah fotografer kaliber tidak terlalu menaruh minat pada virtual photoshoot, karena tidak bisa menciptakan foto high resolution seperti saat real photoshoot.

Walau begitu, tren yang akhirnya diterapkan sejumlah fotografer lokal demi kelangsungan bisnis fotografinya ini, rasa-rasanya malah benar-benar menguji kemampuan utama yang wajib dimiliki fotografer selain menguasai permainan cahaya dan pemakaian kamera, yaitu komunikasi. Tanpa komunikasi yang baik, fotografer akan sulit mengarahkan peraga yang nun jauh di sana keberadaannya, untuk meletakkan laptop atau ponselnya di salah satu pojok rumah pada sudut pengambilan gambar dan pencahayaan yang pas, selain mesti mengarahkan peraga untuk berpose.

Karya Tanpa Batasan

Situasi pandemi COVID-19 yang belum menemukan titik terang masih mengungkung sebagian masyarakat dunia terjebak dalam rutinitas baru di 1-2 ruang saja. Keterbatasan dimensi gerak dan media justru menuntut industri kreatif dan hiburan memutar otak agar tetap berkarya alih-alih banyak produksi di lapangan yang tertunda bahkan dibatalkan. Para kreator dan entertainer justru menegaskan kembali bahwa kita tetap bisa berkarya, berbuat, dan menciptakan sesuatu, apapun medianya.

Setelah virtual photoshoot, muncul online directing yang dipopulerkan fotografer dan sutradara kreatif Benny Lim dengan tagarnya #karyatanpabatasan. Jauh sebelum COVID-19 merebak, sudah ada gerakan #everydaymotret yang diinisiasi seorang phone photographer Aries Lukman, yang berpegang pada prinsip bahwa ada banyak sekali peristiwa dan benda di sekitar kita yang bisa diabadikan bahkan cukup dengan sebuah ponsel. Karena pandemi, Everyday Motret turut merilis kampanye #21daysmotretfromhome dan mengajak para kreator tetap kreatif meski #dirumahaja.

Tidak ada seorang pun menyangka akan ada yang namanya virtual photoshoot, seperti beyond expectation, dan tidak pernah ada yang menyangka bahwa masih ada orang-orang yang bisa menggerakkan orang lain, menciptakan sesuatu, dan tetap menginspirasi meski situasi mengharuskan kita berjarak jauh-jauhan. Dengan ini, Infotembalang juga mengajak Smartizen buat tetap bisa bergerak dan berdampak dengan mewartakan kabar-kabar baik.

Photo credit: Kita Motret (@kitamotret2.0) by Lasha & Muti
Referensi:
https://www.cnnindonesia.com/gaya-hidup/20200504151147-277-499874/tren-virtual-photoshoot-pemotretan-terbatas-layar-kaca
https://www.cnbcindonesia.com/lifestyle/20200504190242-33-156183/wajah-baru-bisnis-fotografi-tren-virtual-photoshoot
https://tirto.id/mengenal-virtual-photoshoot-yang-viral-di-tengah-pandemi-corona-eNsH

J. Rendra Trijadi
Rendra kepalang tenggelam dalam dunia sastra sejak tergoda mengisi rubrik cerpen dan puisi bulanan di tabloid sekolahnya semasa SMP. Belasan tahun berselang, Rendra masih menjadi penulis bohemian yang konsisten penyempurnaannya, sambil bergerilya dari acara ke acara, peristiwa ke peristiwa, mendalami perilaku demi perilaku masyarakat sebagai jurnalis.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *