kegiatan kkn
Berita

KKN: Praktik Berempati (Bagian 1)

Share this:

Medio pertengahan 2019 lalu, jagat Twitter diramaikan dengan kisah “KKN di Desa Penari”. Sempat menjadi trending topic, ratusan ribu orang seakan dibius dengan keseruan kisah mistis yang dituturkan oleh akun @SimpleM81378523. Melalui kacamata tokoh “Widya”, pembaca diantar ke dalam pengalaman kegiatan KKN yang tidak terduga dan, Infotembalang yakin, tidak ingin dialami oleh sebagian besar mahasiswa di Indonesia.

Namun, sadarkah kalian bahwa sebenarnya cerita “KKN di Desa Penari” pada dasarnya adalah manifestasi dari pergunjingan setiap mahasiswa yang baru pulang setelah KKN? Selain topik perselingkuhan dan tikung-tikungan, kisah horor sudah pasti mendominasi obrolan pasca-KKN.

Bila sudah demikian, terkadang pikiran usil menyentil benak kami, jan-jane (sebenarnya) bagaimana sih asal mula diadakannya KKN? Tidak mungkin, kan, kegiatan ini diprogramkan sebagai salah satu bagian dari kurikulum perguruan tinggi hanya agar mahasiswanya terlatih dengan dunia gaib. Agak tak masuk akal pula apabila supaya mahasiswa Indonesia menjadi pribadi yang tangguh menghadapi sakitnya patah hati. Tak ada asap tanpa api. Tentu semua berawal dari sebuah sebab.

Nah! Agar kalian tidak mati penasaran, kali ini Infotembalang akan repot-repot menyusuri internet dan mencari sumber-sumber terpercaya mengenai sejarah dan perkembangan KKN di Indonesia. Here we go, guys!

Bermula dari Pengerahan Tenaga Mahasiswa

Ternyata oh ternyata, pelaksanaan KKN di Indonesia dirintis oleh salah satu universitas terkenal di Indonesia. Yup, tepat sekali! Universitas Gadjah Mada (UGM) menjadi perguruan tinggi pertama di Indonesia yang mendorong mahasiswanya untuk mengabdikan diri secara langsung kepada masyarakat. Awalnya, lewat program Pengerahan Tenaga Mahasiswa atau PTM pada tahun 1951—1962, UGM mengirim sebanyak 1.218 sukarelawan mahasiswa untuk mengajar dan mendirikan sekolah menengah atas di luar Jawa.

Kemudian, pada sekitar tahun 1971, pemerintah melalui Direktur Pendidikan Tinggi, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, menunjuk UGM, Universitas Andalas, dan Universitas Hasanudin, sebagai universitas rintisan dalam melaksanakan kegiatan pengabdian masyarakat dengan pendekatan multidisipliner yang didasarkan atas partisipasi mahasiswa. UGM ditunjuk sebagai universitas pembina KKN yang melibatkan 13 universitas di 13 provinsi pada saat itu. Kemudian, pada periode yang disebut Periode Perintisan ini, KKN masih bersifat sukarela dan generalis terbatas. Lantas, pada tahun 1976, melalui Surat Keputusan Rektor UGM No. 28 tahun 1976, status KKN menjadi intrakurikuler terbatas.

Masa Peralihan, Pemantapan hingga Pengembangan

Terbitnya SK tersebut mengantar KKN memasuki periode kedua, yaitu Periode Peralihan yang berlangsung dari tahun 1977—1979. Pada masa ini, KKN berkembang secara signifikan dalam hal jumlah peserta mahasiswa. Alhasil, dibuatlah dua program KKN, yaitu KKN Lapangan dan KKN Teori. Pada perkembangannya, UGM mengeluarkan Surat Keputusan Rektor UGM No. 17 tahun 1979 yang menyatakan bahwa kegiatan KKN menjadi intrakurikuler pada fakultas-fakultas di lingkungan UGM dan merupakan mata kuliah wajib.

Masa berganti, sepak terjang KKN memasuki Periode Pemantapan yang berlangsung cukup lama, yaitu dari tahun 1979—1990. Di masa ini, KKN memiliki status sebagai intrakulikuler wajib. Dengan demikian, terjadi beberapa perkembangan yang mencolok, yaitu KKN seluruhnya merupakan KKN Lapangan, tidak ada lagi KKN Teori, penyempurnaan diversifikasi tanggung jawab DPL dan Korkab, penilaian yang menggunakan predikat, persyaratan tidak dalam keadaan hamil bagi mahasiswi peserta, dan diadakannya Bakti Kampus dalam kegiatan pra KKN. Meskipun terdapat beberapa perkembangan, ternyata ada sejumlah perguruan tinggi yang menghilangkan kegiatan KKN pada era ini.

Pada kurun 1990—1997, KKN memasuki Periode Pengembangan, Pada masa ini, terjadi upaya peletakan dasar pelaksanaan kegiatan tersebut. Sejumlah pengembangan juga dilakukan, seperti ketika UGM mengembangkan program tersebut ke luar Jawa di Provinsi Lampung, diadakannya KKN Semester Genap secara terpadu. Pada masa ini pula, keluar suatu rekomendasi kepada Dikti agar memasukkan kegiatan KKN dengan status wajib bagi seluruh Perguruan TInggi.

Kuliah Kerja Nyata, bermula dari gerakan kecil hingga kini menjadi program yang hampir selalu ada di setiap Universitas. Menarik sekali, bukan? Tentunya perkembangan program ini tidak hanya berhenti sampai di situ saja. Masih ada Periode Transformasi hingga Pembelajaran Pemberdayaan Masyarakat yang eksis hingga saat ini pada artikel berikutnya “KKN: Praktik Berempati (Bagian 2).”

Julius Ardiles Brahmantya
Cultural Anthroplogy UGM 2017 | Student, writers | AMDG

4 Replies to “KKN: Praktik Berempati (Bagian 1)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *