komunikasi
Mampir Kampus

Anak Ilmu Komunikasi Pendiem? Emang Ada?

Share this:

“Ilmu Komunikasi, belajar ngomong ya?” “Kamu kan pendiem, kok bisa masuk jurusan komunikasi?”

Bagi anak ilmu komunikasi, pertanyaan-pertanyaan seperti ini tentunya sudah tidak asing lagi didengar. Labelling yang diberikan orang-orang buat mahasiswa ilmu komunikasi (Ilkom) pasti seputar ‘banyak omong’ dan aktif. Namun, kenyataannya banyak juga lho anak ilkom yang pendiam. Mereka emang nggak berbicara lewat kata-kata, tapi lewat tulisan dan karya-karya yang mereka buat. Jadi, ilmu komunikasi itu sebenarnya belajar tentang apa sih?

Secara umum, ilmu komunikasi mempelajari tentang bagaimana menyampaikan pesan kepada orang lain secara efektif dan efisien agar mencapai kesamaan makna yang dimaksud. Dalam proses komunikasi, terdapat komunikator sebagai penyampai pesan, dan komunikan sebagai penerima pesan. Komunikator harus bisa menyampaikan pesan seefektif mungkin agar pesan yang ingin disampaikan dapat dimaknai oleh komunikan. Jadi, dalam berkomunikasi tidak hanya tentang berbicara, namun juga bagaimana memahami pesan dengan baik untuk menangkap apa yang dimaksud. 

Setiap orang bisa berkomunikasi. Lalu kenapa komunikasi masih harus dipelajari? Ada satu kutipan yang cukup populer bagi anak ilkom. Sebagai makhluk sosial, manusia pasti berinteraksi dengan orang lain dan membutuhkan orang lain. Interaksi yang terjadi ini yang disebut komunikasi. “You cannot not communicate”,

Komunikasi selalu terjadi di setiap waktu dan tidak dapat dihindari. 

Komunikasi memang sudah dilakukan manusia sehari – hari, namun tidak semua paham cara berkomunikasi dengan benar. Bahkan, tanpa disadari komunikasi bisa saja menimbulkan konflik. Nah, ilmu – ilmu kayak gini nih  yang dipelajari oleh mahasiswa ilkom, aspek – aspek apa saja yang ada dalam proses komunikasi sehingga dapat berjalan efektif, efisien, dan tepat sasaran. Sealin itu, ada satu aspek yang penting dalam berkomunikasi namun seringkali dilewatkan, yaitu mendengarkan.

Seorang filsuf bernama Epictetus menyatakan, “We have two ears and one mouth so that we can listen twice as much as we speak.” Mahasiswa Ilkom selalu ditekankan untuk menjadi pendengar yang baik, bukan hanya menjadi pembicara yang baik. Mengapa harus menjadi pendengar yang baik?

Komunikasi berlangsung secara dua arah. Ketika kita tidak sedang  berbicara, kita harus mendengarkan. Dengan mendengarkan, kita menghargai orang sebagai partner kita dalam berkomunikasi, bukan hanya sebatas lawan bicara. Coba deh bayangin, waktu kita berinteraksi dengan seseorang, kita terus menerus berbicara, membahas hal – hal yang belum tentu atau bahkan tidak membuatnya tertarik. Lama kelamaan orang itu akan menjadi malas untuk berinteraksi dengan kita, karena merasa dirinya tidak diberikan kesempatan untuk membuka diri. Inilah mengapa mendengarkan juga penting dalam berkomunikasi. Selain membuat partner bicara tertarik, mereka juga merasa dihargai. 

Tidak Hanya Berbicara, Tetapi Juga Mendengar

Dalam kehidupan nyata, tak jarang aspek ‘mendengar’ ini dilewatkan. Sebagai contoh, orang – orang yang memiliki masalah atau sedang mengalami hal yang buruk. Terkadang, yang mereka butuhkan hanya seseorang untuk mendengarkan dan memahami perasaan mereka. Dengan begitu, mereka akan merasa dihargai atas apa yang mereka rasakan dan merasa diterima. Hal ini tentunya juga berdampak pada psikis mereka. 

Itulah kenapa mendengarkan merupakan hal yang penting, Smartizen, dan sebisa mungkin dibiasakan. Dengan mendengarkan, kita belajar memahami, menghargai orang lain, dan tentunya membuat orang tertarik kepada kita.

Jangan heran ya, kalau ketemu anak ilkom yang pendiem. Itu berarti mereka merealisasikan teori dari Epictetus tadi, mendengarkan lebih banyak daripada berbicara. Kalau Smartizen sendiri gimana? Sudah mendengarkan siapa aja hari ini?

One Reply to “Anak Ilmu Komunikasi Pendiem? Emang Ada?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *