Berita

Kuliah Kerja Nyata: Nyata Mengabdi atau Formalitas Akademis?

Share this:

foto: suaramerdeka.com

Kuliah Kerja Nyata (KKN) merupakan program kegiatan mahasiswa dan wadah untuk mengabadikan ilmu yang telah dimiliki ke masyarakat secara langsung. Kegiatan ini termasuk perwujudan dari Tri Dharma Perguruan Tinggi yang mencakup Pendidikan, Penelitian dan Pengabdian. Tim 1 KKN Universitas Diponegoro (Undip)  Tahun 2019/2020 nanti akan diikuti sebanyak 2.122 mahasiswa dengan masa pengabdian 42 hari tepatnya mulai 2 Januari 2020.

Penetapan KKN sebagai mata kuliah wajib di Undip, memunculkan setidaknya dua perspektif berbeda. Dwiki Adnan, mahasiswa Ilmu Pemerintahan menyampaikan bahwa pemilihan lokasi yang menurutnya kurang tepat, memudarkan esensi pengabdian dari kegiatan KKN itu sendiri “Menurutku perkampungan terlalu padat penduduk dan perekonomian masyarakat sudah terlalu stabil Awalnya emang niat buat pengabdian, tapi tempatnya nggak cocok untuk dijadikan lokasi pengabdian KKN, jadinya, ya KKN yang aku jalani hanya formalitas pemenuhan kewajiban akademik.”, ungkap Dwiki.

Senada dengan pendapat Dwiki, Aulia Resti, mahasiswi Fakultas Sains dan Matematika juga berpendapat KKN semata-mata menjadi kegiatan untuk pemenuhan kewajiban akademik. Menurut Aulia, kurangnya monitoring yang baik dalam pelaksanaan program KKN dan penilaian dampaknya, menjadikan KKN hanya formalitas pemenuhan SKS semata, “KKN bagian dari SKS, namun dari pengalaman, aku rasa dampak dari KKN tidak benar-benar dicek kembali oleh pihak kampus. Awalnya ekspektasi, KKN bener-bener pengabdian tapi kenyataan memang berbeda ujungnya formalitas aja.” Selain kurangnya monitoring, Aulia juga menyayangkan biaya KKN yang relatif besar, “Terlebih memberatkan karena kalau diperhitungkan biaya KKN itu relatif besar, ditambah lagi untuk pelaksanaan programnya nggak semua mahasiswa itu memiliki kemampuan finasial cukup.”

Berbeda dengan Dwiki dan Aulia, Yuyung Candra, mahasiswa Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik tegas menganggap KKN tak hanya sekedar kewajiban akademik, namun lebih sebagai wadah pengabdian, “Aku concern ke pengabdian, salah satu cara mahasiswa untuk membumikan ilmunya adalah ketika KKN. Konteks pengabdiannya sesuai background pendidikan masing-masing sehingga jika nanti telah terjun ke masyarakat, sudah siap”.

Tak jauh berbeda dengan Yuyung, Abizars, mahasiswa Fakultas Hukum, berpendapat KKN adalah sarana pengabdian dan belajar sebelum menuju ke pengabdian yang sesungguhnya, “Aku ngejalanin KKN nggak cuma sekadar untuk menuntaskan kewajiban akademik tapi juga sebagai sarana untuk pengabdian. Melalui KKN, aku memiliki akses buat lihat desa yang belum pernah aku jumpai kayak permasalahan apa yang ada di desa lokasi KKNku” ungkapnya kepada tim Infotembalang. Abizars juga menambahkan, kegiatan KKN dapat menjadi salah satu sarana laboratorium sosial bagi dirinya.

Perbedaan pendapat, berdasarkan preferensi pengalaman dan ekspektasi, tentunya merupakan hal yang wajar. Nah, kalau menurut Smartizen nih, Kegiatan KKN itu murni untuk pengabdian atau hanya sekadar pemenuhan kewajiban akademik semata sih? Yuk, diskusikan!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *