Ngobrol Penting

Tren Sesaat Sedotan Stainless

Share this:

Isu lingkungan sedang hangat diperbincangkan, khususnya sampah plastik. Smartizen tentunya sudah sering dengar pembicaraan mengenai jumlah sampah plastik terutama yang terbuang ke laut kan? Masalah tadi memunculkan inovasi produk sedotan berbahan stainless. Produk ini cepat menyebar di masyarakat, khususnya anak muda, namun apakah stainless straw ini hanya tren sesaat saja, atau memang merupakan suatu movement pelestarian lingkungan ?

Sampah plastik telah menjadi permasalahan pada tingkat global. Lembaga Credit Suisse melaporkan riset yang kesimpulannya menyatakan bahwa pada tahun 2050, bobot volume sampah plastik di laut, melebihi total volume seluruh ikan (vice.com).  Negara Indonesia sendiri punya masalah serius terkait dengan sampah plastik ini, Mongabay.com, situs berita yang fokus terhadap isu lingkungan, merilis hasil riset Jenna Jambeck dimana Indonesia menduduki ranking dua penyumbang sampah plastik di lautan, dengan total 1,29 juta metriks ton. Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Indonesia, Siti Nurbaya, memperkirakan 15% sampah di Indonesia pada tahun 2019 adalah sampah plastik.

Munculnya produk Stainless straw melahirkan setidaknya dua perspektif berbeda, ada yang menganggapnya hanya sebagai tren semata, ada pula yang beranggapan sebagai suatu movement cinta lingkungan. Alberta Cindy, Mahasiswi Fakultas Ekonomika dan Bisnis (FEB) Universitas Diponegoro berpendapat bahwa penggunaan stainless straw saat ini masih sebatas tren saja, “Menurut aku tren saja, karena pada dasarnya, kita minum tanpa sedotan pun bisa, tidak perlu menggunakan stainless straw. Nyatanya sampai hari ini jarang ada yang bawa stainless straw kemana-mana.” ungkap Cindy pada Infotembalang. Senada dengan Cindy, Dian Kartika, Mahasiswi FISIP Undip juga memandang stainless straw hanya sebagai tren sesaat, “ Banyak yang orientasinya hanya ikut-ikut, jadi kehilangan value awal ‘pelestarian lingkungan’, jadinya hanya sekedar tren aja. Sekarang apa masih pada pakai ? Lama-lama bosen harus bawa (sedotan stainless) dan harus mencuci. Ya kalau dulu awal-awal heboh, banyak yang pakai, banyak yang jualan juga.”

Ocean Conservancy yang melakukan penilitian dengan melakukan pembersihan pantai secara global pada tahun 2017 menemukan bahwa puntung rokok menjadi polutan yang paling banyak ditemukan di laut (2.412.151 buah), menyusul bungkus makanan (1.739.743 buah) dan tutup botol plastik (1.569.135 buah). Sedotan palstik justru ada di peringkat ketujuh dengan temuan sebanyak 643.562 buah.

Di sisi lain kampanye global #NoStrawMovement meningkatkan permintaan atas sedotan stainless dan tentu berpotensi menguntungkan. Klara Elfa, owner Wit.id salah satu online shop di Instagram yang juga menjual stainless straw, mengatakan bahwa tim nya tidak hanya sekedar mencari profit dari tren dan memandang penggunaan stainless straw ini merupakan suatu movement yang harus didukung bersama, ”Menurut kami ini merupakan suatu movement dan bagus sebagai respon terhadap isu sampah plastik dilaut yang berlebih. Sehingga kalau dibilang berjualan memanfaatkan tren juga engga ya, karena kebetulan dari awal Wit.Id ingin menjadi ecopreneur, sehingga memang menghadirkan produk reusable things, saat ini stainless straw, mungkin next akan mengeluarkan produk totebag, dan yang lain”. Bagas Kurnia Adi, Ketua UPK Kumbang, salah satu unit yang bergerak dalam pelestaian lingkungan di FISIP Undip memandang bahwa stainless straw merupakan salah satu movement pelestarian lingkungan. “Banyak cara pelestarian lingkungan, penggunaan stainless straw hanya salah satu jalan. Movement yang bagus ini tidak hanya dapat mengurangi sampah plastik khsusunya sedotan, namun juga diharapkan lebih jauh membangun kebiasaan untuk memakai barang yang dapat digunakan berulang kali”, ungkap Bagas kepada tim Infotembalang.

Kalau menurut Smartizen, stainless straw itu hanya tren sesaat atau memang movement yang impactful? Tulis opini kamu di kolom komentar ya!

sumber foto: http://www.technomarketinginc.com

Alfonsus Ega
Young - Smart - Impactful Bergerak, berdampak !

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *